Categories: ASEAN

Indonesia Serukan Perdamaian Myanmar Jelang Pertemuan ASEAN

AHA Centre, badan ASEAN untuk manajemen bencana, telah menyelesaikan penilaian kebutuhan bersama di Myanmar dan memberikan bantuan awal pada bulan Mei, kata Retno.

Dia mengatakan badan tersebut sedang mempersiapkan distribusi bantuan kepada 400 rumah tangga atau sekitar 1.450 pengungsi internal di wilayah Sagaing dan Magway Myanmar, yang merupakan salah satu prioritas berikutnya.

Indonesia sendiri telah mengirimkan 45 ton bantuan kemanusiaan ke Myanmar bulan lalu, kata dia.

Jakarta patut diapresiasi sekaligus dikritik

Hunter Marston, seorang peneliti di Australian National University, mengatakan bahwa tidak mungkin menilai kemajuan hubungan diplomatik Indonesia dengan berbagai pihak di Myanmar, karena bersifat rahasia dan tertutup.

Di satu sisi, Jakarta harus diapresiasi karena telah melakukan begitu banyak pertemuan dengan pemangku kepentingan yang berbeda, kata Marston.

“Fakta bahwa Jakarta telah menjadi perantara begitu banyak pertemuan, dengan kinerja bersama berbagai pemangku kepentingan, sangat mengesankan dan harus didukung,” kata Marston kepada BenarNews.

Namun di sisi lain, pemerintah Indonesia telah menyepelekan luasnya konflik dan keengganan pihak yang bertikai untuk berkompromi, kata dia.

“Jadi masih harus dilihat apakah sesuatu yang substansial akan muncul dari pembicaraan yang sedang berlangsung. Jika Jakarta berhasil mencapai gencatan senjata atau lebih baik, komitmen untuk dialog politik antara NUG dan SAC, maka semua kerahasiaan dan kritik akan sepadan,” kata Marston.

”Namun, jika tidak ada hasil apa pun pada akhir masa keketuaan Indonesia, maka semua orang akan menyalahkan dan berkata, “Lihat? Sejak awal memang tidak ada peluang kemajuan.”

Peneliti Departemen Hubungan Internasional dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Muhammad Waffaa Kharisma menilai setiap penambahan kegiatan merupakan kemajuan penting bagi ASEAN.

“ASEAN punya tanggung jawab untuk membangun mekanisme yang berkesinambungan dari satu ketua ke ketua berikutnya, yang bertanggung jawab pada masyarakat dan pemangku kepentingan Myanmar,” kata dia.

Tantangannya, kata Waffaa, adalah mempertahankan model ini ke ketua selanjutnya dan mencegah ASEAN bersikap menyederhanakan masalah dan menormalisasi hubungan dengan SAC tanpa akuntabilitas dan perubahan sikap dari mereka.

“Namun [belum pasti] apakah kegiatan itu merupakan kemajuan bagi tuntutan dan masa depan rakyat Myanmar atas perlindungan diri mereka, pengembalian hak-hak mereka. Bagi mereka, belum tentu usaha ini bisa dikatakan kemajuan,” kata Waffaa./BenarNews

Page: 1 2

Redaksi - SWARAKEPRI

Recent Posts

Jalankan Peran Penggerak Hilirisasi, MIND ID Optimalkan Kontribusi Bagi Negara

Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID konsisten menjalankan fungsi strategis sebagai penggerak hilirisasi nasional guna…

2 jam ago

Perluas Peluang Bisnis, WSBP Tambah Kegiatan Usaha

PT Waskita Beton Precast Tbk (kode saham: WSBP) menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST)…

3 jam ago

Perkuat Komitmen Keberlanjutan, SUCOFINDO Dukung Aksi “Mageri Segoro” di Jawa Tengah

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas…

5 jam ago

BRI Finance Catatkan Pertumbuhan Pembiayaan Mobil Bekas 169,34 Persen

Di tengah kebutuhan masyarakat akan kendaraan pribadi yang tetap tinggi, mobil bekas semakin menjadi pilihan…

1 hari ago

Lebih dari 1 juta Ton Barang Diangkut via Kereta Kontainer, Setara Mengurangi Pergerakan Hampir 60 Ribu Truk di Jalan Raya

Pada Mei 2026, KAI Logistik berhasil mencatatkan kinerja keseluruhan angkutan barang dengan volume sebesar 1.658.622…

1 hari ago

UU P2SK Resmi Disahkan, Nasib Industri Kripto RI Bakal Berubah?

Pengesahan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan atau UU P2SK dinilai menjadi momentum penting…

1 hari ago

This website uses cookies.