Penurunan tersebut bisa dilihat dari nilai ekspor atau pangsa pasar yang bisa direbut kopi Indonesia. Patokan kedua adalah kemampuan bersaing kopi Indonesia di pasar internasional. Keduanya mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, kata Dwidjono.
Seorang pekerja perempuan memetik biji-biji kopi saat panen di sebuah perkebunan di desa Ulian, Bali (foto: ilustrasi).
“Pangsa pasar kita di dunia itu sayangnya beberapa tahun terakhir cenderung menurun. Nah ini harusnya sudah menjadi warning, bagaimana kita meningkatkan pangsa pasar kopi di luar negeri,” kata Dwidjono.
Melihat data yang ada di PBB, Dwidjono menilai ada sejumlah negara yang naik dalam dua sisi itu, baik dalam merebut pangsa pasar maupun dalam kemampuan bersaing secara kualitas.
Fokus perbaikan, salah satunya harus dilakukan di perkebunan terlebih dahulu.
“Karena sebagian besar produksi kita, dihasilkan oleh pertanian rakyat, hanya sedikit yang dari perkebunan besar dan perkebunan swasta. Saya melihat, di perkebunan rakyat ini ternyata sudah beberapa tahun ini agak tidak terperhatikan,” ujar Dwidjono.
Salah satu buktinya adalah ada cukup banyak pohon kopi berusia tua di Indonesia yang produktivitas dan kualitasnya rendah. Karena itulah peremajaan pohon kopi, terutama di di perkebunan rakyat, menjadi langkah yang harus diambil./VOA
LRT Jabodebek melayani 139.874 pengguna selama libur panjang May Day 1–3 Mei 2026, atau rata-rata…
Pembiayaan berbasis aset bukan berarti tanpa risiko, tetapi dapat menjadi alternatif yang lebih terukur dibandingkan…
Jakarta, 30 April 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) mengawali tahun 2026 dengan…
BATAM - Jajaran Direktorat Jenderal(Ditjen) Imigrasi masih melakukan penyelidikan terkait kasus ratusan Warga Negara Asing(WNA)…
Jakarta 30 April, – Kalyce Aesthetic Clinic dengan bangga mengumumkan Grand Opening Kalyce Aesthetic Clinic, sebuah klinik…
Cuckoo, produsen peralatan rumah tangga terkemuka asal Korea Selatan, secara resmi memperkenalkan Lee Jun-ho sebagai…
This website uses cookies.