Categories: KESEHATAN

Daftar Vaksin Covid-19 yang Diklaim Efektif 90% Lebih

JAKARTA – Kabar baik soal penelitian vaksin corona (Covid-19) terjadi sepekan ini. Sejumlah vaksin eksperimental disebut efektif, bahkan ada yang hingga 90% lebih.

Lalu apa sajakah itu? Berikut ini daftarnya disadur dari CNBC Indonesia:

1.Vaksin Pfizer 95%

Vaksin corona buatan Pfizer dan BioNTech disebut sudah selesai uji klinis tahap akhir. Vaksin dengan nama BNT162b2 ini kabarnya efektif 95% melawan Covid-19 tanpa efek samping membahayakan.

Uji klinis vaksin Covid-19 BNT162b2 melibatkan 43.000 relawan di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa. Data final uji analis mengevaluasi 170 infeksi Covid-19 yang telah dikonfirmasi.

Dikutip dari Express, efek samping relawan hanya bersifat ringan. Di antaranya sakit kepala dan nyeri otot, seperti setelah divaksinisasi flu.

Menurut data final uji tahap akhir vaksin BNT162b2 menjadi sangat efektif melawan virus Covid-19 28 hari sejak dosis pertama dan efektivitasnya konsisten di semua harga, etnis dan rasa.

2.Vaksin Moderna 94%

Vaksin Moderna, perusahaan farmasi AS juga menunjukkan hasil baik. Efektivitas yang dimiliki lebih dari 94%.

“Ini merupakan momentum perbaikan dalam perkembangan kandidat vaksin Covid-19 milik kami. Sejak awal Januari kami mengejar virus ini dengan intens untuk melindungi manusia di seluruh dunia sebisa mungkin. Analisis positif dari studi fase III memberikan validasi klinis awal bahwa vaksin bisa mencegah Covid-19,” ujarnya CEO Moderna Stephane Bancel.

Pada Agustus 2020 lalu, Moderna mengatakan menjual vaksin tersebut dengan harga US$ 32-US$ 37 per dosis untuk sejumlah pembeli. Namun bila penjualan dalam jumlah besar, harganya bisa jauh lebih murah.

Akhir tahun ini, Moderna menyatakan siap mengirim sekitar 20 juta dosis vaksin ke AS. Kemudian tahun depan bakal mengedarkan secara global sebanyak 500 juta hingga 1 miliar dosis vaksin.

3.Vaksin Gamaleya 92%

Vaksin Sputnik 5 juga disebut efektif 92% melindungi dari corona (Covid-19). Ini merupakan data awal uji klinis fase akhir vaksin Sputnik 5 yang ungkapkan oleh lembaga Sovereign Wealth Fund Rusia RDIF, seperti dilansir dari Reuters.

Data awal ini berasal 20 relawan uji klinis yang telah disuntik dua dosis vaksin. Rusia sendiri sudah melakukan uji klinis fase ketiga pada 16.000 relawan.
Jumlah data ini sebenarnya lebih kecil dari data milik Pfizer yang menyebut vaksinnya 90% efektif lawan Covid-19 dari data 94 relawan.

Sputnik V merupakan vaksin Covid-19 pertama di dunia. Rusia mendaftarkan vaksin ini pada Agustus lalu meski uji klinis yang melibatkan relawan dalam jumlah besar belum dilakukan.

Vaksin ini dikembangkan oleh Institut Gamaleya dan melakukan uji klinis tahap akhir di 29 klinik di seluruh Moskow dengan target 40.000 relawan di mana 10.000 relawan dijadwal disuntik plasebo (vaksin palsu).

Hasil efektifitas vaksin Sputnik ini lebih tinggi dari ambang batas bawah yang disyaratkan Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat (AS) sebesar 50%.

“Penelitian ini telah menunjukkan dan mengkonfirmasi bahwa pertama vaksin ini mana dan tidak memiliki efek samping serius setelah digunakan dan kedua, semuanya efektif,” ujar Presiden Rusia Vladimir Putin.

“Publikasi hasil sementara uji klinis yang secara meyakinkan menunjukkan kemanjuran vaksin Sputnik V memberi jalan untuk vaksinasi massal Covid-19 di Rusia dalam beberapa minggu mendatang,” kata Alexander Gintsburg, direktur Institut Gamaleya

4.Vaksin Sinovac

Vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech berhasil memicu respons kekebalan tubuh dengan cepat. Ini merupakan data uji klinis yang dipublikasikan perusahaan, 18 November lalu.

Tingkat antibodi yang dihasilkan vaksin bernama CoronaVac ini lebih rendah daripada orang yang telah pulih dari virus corona baru tetapi para peneliti mengungkapkan hal itu cukup memberikan perlindungan yang cukup bagi pengguna.

Data ini merupakan hasil uji klinis fase 1 dan fase II vaksin Sinovac yang dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet Infectious Diseases. Uji ini melibatkan 700 relawan.

“Temuan kami menunjukkan CoronaVac mampu memicu respons antibodi yang cepat dalam empat minggu setelah imunisasi dengan memberikan dua dosis vaksin pada interval 14 hari,” ujar Zhu Fengcai, salah satu penulis makalah itu, seperti dikutip dari Reuters.

“Kami percaya bahwa hasil ini membuat vaksin [CoronaVac] cocok untuk penggunaan darurat selama pandemi.”





Sumber: CNBC INDONESIA

Redaksi - SWARAKEPRI

Recent Posts

RSJPD Harapan Kita – Tokushukai Capai Topping Off, PTPP Hadirkan Smart Hospital Berteknologi Tinggi

Jakarta, April 2026 – PT PP (Persero) Tbk (“PTPP”), perusahaan konstruksi dan investasi nasional di bawah…

10 jam ago

Bea Cukai Batam Beberkan Alasan Penerbitan SPPB 90 Kontainer Limbah Elektronik asal AS

BATAM - Proses penanganan limbah elektronik atau e-waste asal Amerika Serikat yang berada di Pelabuhan…

12 jam ago

Puragraph Vol. I: Menghubungkan Warisan Sejarah dan Generasi Muda melalui Siluet Arsitektur Heritage Belanda

JAKARTA, April 2026 – Membawa akar DNA jenama Purana yang selama ini dikenal teguh melestarikan…

16 jam ago

BRI Finance Bukukan Laba Rp91 Miliar di Tengah Dinamika Industri Pembiayaan

Jakarta, 15 April 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) mencatatkan laba sebesar Rp91…

19 jam ago

Saat AI Tak Bisa Berdiri Sendiri: BINUS Kukuhkan Prof. Tanty Oktavia, Soroti Pentingnya Human–AI Collaboration

Di tengah percepatan transformasi digital, kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) menjadi kunci dalam…

21 jam ago

Metodify Hadir sebagai Platform AI Akademik untuk Mendukung Penulisan Artikel Ilmiah

Metodify merupakan platform AI akademik yang dirancang untuk membantu mahasiswa dan peneliti dalam menyusun artikel…

21 jam ago

This website uses cookies.