Categories: BATAM

Diperiksa Polisi Sebagai Tersangka, 3 Warga Rempang Tidak Ditahan

BATAM – Tiga warga Pulau Rempang memenuhi panggilan penyidik di Polresta Barelang setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan perampasan kemerdekaan. Mereka menjalani pemeriksaan selama lebih dari lima jam sebelum diperbolehkan kembali tanpa dilakukan penahanan.

Ketiga warga tersebut yakni, Siti Hawa alias Nenek Awe (67), Sani Rio (37), dan Abu Bakar (54). Mereka dijerat dengan Pasal 333 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang perampasan kemerdekaan.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mawar Saron Batam, Supriardoyo Simanjuntak mengatakan, kliennya tidak berniat merampas kemerdekaan seseorang seperti yang disangkakan pihak kepolisian.

Menurutnya, warga hanya mempertanyakan dugaan perusakan alat yang mereka gunakan untuk mempertahankan kampung.

“Kami dari tim solidaritas pada prinsipnya mendukung penegakan hukum dan mengapresiasi dikabulkannya permintaan agar tidak dilakukan penahanan terhadap tersangka. Namun, warga bukan ingin menahan seseorang, mereka hanya meminta kepastian dari kepolisian terkait perusakan yang dilakukan pekerja perusahaan,” kata Supriardoyo di Polresta Barelang, Kamis (6/2/2025).

Tiga warga rempang diperiksa Polisi sebagai tersangka./Foto: PT

Ia juga mempertanyakan transparansi penegakan hukum atas laporan warga terkait penyerangan yang menyebabkan delapan orang mengalami luka-luka.

“Kami ingin ada transparansi dalam perkara yang melibatkan warga sebagai korban. Bagaimana perkembangan laporan mereka? Siapa saja yang sudah ditetapkan sebagai tersangka?” tegasnya.

Di lokasi yang sama, Siti Hawa alias Nenek Awe mengaku tidak menerima tuduhan perampasan kemerdekaan yang dialamatkan kepadanya.

“Apa yang nenek rampas? Nenek hanya menjaga kampung,” kata Siti Hawa.

Ia juga meminta agar PT Makmur Elok Graha (MEG) sebagai pengelola proyek strategis nasional (PSN) Rempang Eco City dipindahkan dari Pulau Rempang.

“Permintaan nenek dan warga, perusahaan ini dipindahkan saja. Sebab, kami saat ini tidak pernah merasa tenang,” tutupnya.

Peristiwa ini bermula pada, Selasa (17/12/2024) malam, ketika warga mengamankan seorang pekerja PT MEG yang diduga merusak dan mencopot spanduk penolakan terhadap proyek Rempang Eco City.

Page: 1 2

Redaksi - SWARAKEPRI

View Comments

Recent Posts

BRI Region 6 Ikuti Pengarahan Program BRI Fellowship Journalism 2026 Bersama Insan Pers Nasional

BRI Region 6 turut berpartisipasi dalam kegiatan pengarahan Program BRI Fellowship Journalism 2026 sebagai bentuk…

33 menit ago

Kirim 5 Perwakilan CreatorHub, BRI Region 6 Semarakkan Bincang Santai Antar Region

BRI Region 6 menunjukkan komitmennya dalam mendorong kreativitas dan kolaborasi dengan mengirimkan lima perwakilan pekerja…

9 jam ago

Eksepsi Ditolak, Sidang Perkara Dju Seng Lanjut ke Pembuktian

BATAM - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Batam menolak eksepsi terdakwa Dju Seng anak dari Lim…

11 jam ago

Amerika Serikat Blokade Selat Hormuz, Bittime Soroti Dampaknya terhadap USDT/IDR

Kondisi geopolitik dunia saat ini sedang berada dalam tensi tinggi, menyusul langkah Amerika Serikat (AS)…

14 jam ago

Tangkap Tren Renovasi Hunian, BRI Finance Perluas Akses Pembiayaan Masyarakat yang Fleksibel

Kebutuhan akan hunian yang nyaman, fungsional, dan adaptif terhadap dinamika gaya hidup terus mengalami peningkatan…

14 jam ago

Dari Bauksit ke Baterai EV, MIND ID Bangun Rantai Hilirisasi Menuju Industri Masa Depan Indonesia

MIND ID sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui…

14 jam ago

This website uses cookies.