Categories: BATAM

Diskusi Kebangsaan Jadi Topik Peringatan Haul Gus Dur Ke 11

BATAM – Kiai Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur menjadi salah satu Kiai karismatik yang pemikirannya selalu menginspirasi bagi generasi bangsa Indonesia. Warisan-warisan pemikiran dan gagasannya seakan tak pernah mati meski sudah 11 tahun Gus Dur Wafat.

Tepat pada tanggal 30 Desember disetiap tahun, para pecinta Gus Dur, baik dari kalangan Islam maupun kalangan agama lainnya di Indonesia rutin memperingati hari kematian Presiden RI ke 4 ini.

Cucu pendiri NU Kiai Hasim Asyari ini, namanya begitu lekat dengan nasionalisme dan toleransi antar etnis juga antar umat beragama. Tak ayal haul Gus Dur diperingati oleh para tokoh dari lintas etnis dan lintas agama.

Di Batam misalnya, haul Gus Dur yang dipelopori oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor Kecamatan Sagulung, menghadirkan tokoh lintas agama dalam sebuah diskusi kebangsaan dengan tema “merawat nasionalisme melalui bingkai kebinekaan”.

Tema yang mereka usung ini, menurut ketua PAC Ansor Sagulung, Takat Prasetyo, saat ini masyarakat cenderung memberikan kritik yang berlebihan kepada pemerintah.

“Banyak kritik dari masyarakat yang serampangan dan menjatuhkan. Bahkan sampai pada kategori menghina,” katanya.

“Boleh saja mengkritik tapi jangan lupa untuk tetap berpartisipasi dalam membangun bangsa,” sambungnya.

Ia melanjutkan, seseorang yang memiliki nasionalisme tinggi serta jiwa kebangsaan yang besar tidak akan mudah menghina simbol negaranya. “Kondisi inilah yang melatarbelakangi kegiatan Haul Gus Dur dengan diskusi kebangsaan pada 30/12/2021 kemarin di Gazebo Toleransi” imbuh dia.

Di NU sendiri, kata Takat, bukan tidak mengkritik terhadap kebijakan pemerintah. Para pimpinan Ansor dan NU juga mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai kurang berpihak pada masyarakat. Hanya saja kritik-kritik dari tokoh NU biasanya selalu dibarengi dengan tawaran solusi.

Dia lantas mencontohkan, dalam kasus kebijakan kartu pra kerja yang digagas perintah, Ketua Umum Ansor, Gus Yaqut, mengkritik keras kebijakan tersebut. Meskipun sebenarnya kritik atas kebijakan ini tidak hanya dari tokoh Ansor dan NU saja, namun kebijakan tersebut sempat ditangguhkan.

“Saat itu Gus Yaqut mengkritisi bahwa kebijakan kartu pra kerja belum tepat sasaran. Karena ada saat itu orang kaya pun bisa mendaftar. Sehingga secara sistem kebijakan tersebut masih perlu direvisi,” papar dia.

Kondisi ini berbeda dengan yang terjadi pada saudara-saudara kita yang getol mengkritik pemerintah, namun juga mau menikmati kebijakan tersebut.

“Mereka mengkritik kartu pra kerja tapi mereka juga mendaftar. Padahal secara finansial mereka bukan dalam kategori tidak mampu. Ini terjadi dilingkungan sekitar saya,” jelas dia.

Jika mengamati ketidaksukaan sebagian orang kepada pemerintah, Takat menilai bahwa rasa nasionalisme pada orang-orang itu sudah luntur.

Belum lagi rasa tersebut seolah dipupuk oleh segelintir orang yang seharusnya menjadi panutan serta dapat ikut serta merawat rasa nasionalisme umatnya justru tak jarang menyampaikan pidato-pidato yang provokatif.

“Saya khawatir apa yang menjadi pemikiran orang-orang yang sering memprovokasi ini lantaran kepentingannya tidak terakomodir oleh pemerintah. Sehingga mereka berusaha mempengaruhi masyarakat untuk tidak percaya kepada pemerintah,” tegas dia.

Takat mengharap, dengan diadakannya kegiatan-kegiatan bertema nasionalisme ini dapat memupuk rasa cinta tanah air bagi generasi muda penerus bangsa.

“Sebagai sebuah bangsa, kalau kita memang menghendaki untuk maju maka sedah suatu keharusan untuk meninggalkan ego kesukuan dan ego agama,” pungkasnya.

Selain tokoh NU, Gus Durian dan akademisi, tokoh lintas agama yang juga hadir serta menjadi narasumber dalam diskusi diantaranya Romo Paschal dari Katolik serta Benny Roy Tamba dari Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (Gamki) Provinsi Kepri. Selain itu, tokoh muda agama Hindu Batam, juga turut hadir dalam diskusi kebangsaan ini.

Bukan hanya diskusi, acara peringatan haul Gus Dur ke 11 itu juga diramaikan dengan live paint atau melukis langsung karakter Gus Dur oleh seniman Batam asal Batu, Malang, Cak Sulis. Lukisan Gus Dur yang dibuat oleh Cak sulis ini berhasil di lelanh dengan harga Rp 1 juta./Din

Sholihul Abidin - SWARAKEPRI

Recent Posts

SUCOFINDO Dorong Daya Saing Industri Alat Kesehatan melalui Penguatan Pengujian dan Kalibrasi

Dalam rangka mendukung program Asta Cita Pemerintah serta mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada…

10 menit ago

Film Baby Udon Bagikan First Look, Perjuangan Fanny dan Hajime Kondoh Mendapatkan Buah Hati Di Tengah Sakit Kanker

Perjalanan content creator, Fanny Kondoh, dalam membangun keluarga kecilnya bersama sang suami, Hajime Kondoh, pernah menyentuh…

44 menit ago

Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Daya Saing Global, Tembakau Premium PTPN I Jadi Andalan Industri Cerutu Dunia

Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) terus memperkuat daya saing komoditas tembakau nasional melalui PTPN…

45 menit ago

Lebih dari Sekadar Sebuah Ruang: CURATED LIVING Hadir di ASHTA District 8

ASHTA District 8 menghadirkan CURATED LIVING, sebuah karya yang mengeksplorasi bagaimana seni, desain, dan gaya…

47 menit ago

Global Energy Alliance for People and Planet Bersama Mitra Dorong Solusi Terintegrasi bagi Masyarakat Pesisir Indonesia

Masyarakat pesisir Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi biru nasional. Namun, di balik besarnya potensi sektor…

1 jam ago

Tingkatkan Kolaborasi dan Kesehatan Pekerja, BRI Region 6 Gelar Fun Mini Soccer Bersama BRI BO Kramat Jati

Dalam upaya mewujudkan budaya kerja yang sehat sekaligus mempererat sinergi antarunit kerja, BRI Region 6…

3 jam ago

This website uses cookies.