Categories: DUNIAVoice Of America

Indonesia Pastikan Tak Akan Dukung Pemerintahan Junta Militer Myanmar

ASEAN Masih Belum Satu Suara

Pandu Prayoga yang merupakan pengamat ASEAN dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai negara-negara ASEAN masih berbeda pendapat mengenai perlu tidaknya mengakui junta sebagai pemerintahan yang sah di Myanmar. Ada negara yang menganggap posisi junta di Myanmar tidak bisa digoyang sehingga mau tidak mau harus ada pengakuan atas pemerintahan junta. Untuk itu, ujar Pandu, pemerintah harus sangat hati-hati.

“Di satu sisi kita ingin (krisis Myanmar) selesai, sudah berlarut-larut kan. Ketika kita mengakui junta, saya risikonya juga besar. Artinya kita mengakui pemerintah yang telah banyak membunuh rakyatnya ini, kita melegitimasi,” ujar Pandu.

Pandu menyakini sebagai Ketua ASEAN tahun depan, Indonesia akan memaksimalkan kembali pelaksanaan lima poin konsensus. Indonesia, lanjutnya, harus mengundang berbagai pihak, bukan hanya junta militer sebagaimana yang dilakukan Kamboja, tetapi juga pihak oposisi yang menentang pemerintahan junta. Kedua pihak sedinya bersama untuk menghentikan kekerasan, tambah Pandu.

Indonesia sebagai Ketua ASEAN nantinya juga dapat menggunakan berbagai elemen diplomasi, seperti militer, untuk turut serta dalam berdiplomasi dengan junta yang juga militer.

Strategi lain yang dapat dilakukan, ujar Pandu, adalah dengan sama sekali tidak mengundang Myanmar hingga negara itu mau membuka diri dan berdiplomasi. Menurutnya junta militer Myanmar tidak mau melaksanakan lima poin konsensus ASEAN karena khawatir dengan adanya intervensi dari negara lain yang akan merugikan posisinya.

Masalah Mengakar di Myanmar

Diwawancarai secara terpisah, pengamat hubungan internasional di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Andrew Mantong menilai krisis Myanmar tidak akan dapat selesai dalam satu tahun periode kepemimpinan Indonesia di ASEAN. Ini dikarenakan adanya masalah yang sudah mengakar di negeri Gajah Putih itu.

“Bukan hanya kegagalan demokrasi, tapi juga ada masalah antar elemen pembentuk bangsanya. Jadi ada hubungan antar etnis yang bermasalah, ada masalah bangsa dan pembentukan bangsa yang belum selesai dan itu tidak mungkin selesai dalam waktu satu tahun,” ujar Andrew.

Ditambahkannya, jika masih ingin melanjutkan lima poin consensus yang dihasilkan April 2021 lalu, maka harus ada terobosan baru. Ini dikarenakan di dalam ASEAN sendiri masih ada ketidakjelasan soal bagaimana menerapkannya dan sumber daya yang dapat dimobilisasi.

Ironisnya, junta militer Myanmar tahu persis tidak akan ada konsekuensi terhadap mereka jika tidak melaksanakan lima poin konsensus itu. Padahal ASEAN dapat saja membekukan keanggotaan negara berpenduduk hampir 55 juta jiwa itu.

Page: 1 2 3

Redaksi - SWARAKEPRI

Recent Posts

Kementerian PU Tambah 57 Titik Sumur Bor Pasokan Air Bersih Aceh

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus bergerak mendukung pemulihan layanan dasar pascabencana di Provinsi Aceh. Fokus…

2 hari ago

Usai Rilis Inflasi AS, Emas Diprediksi Masih Menguat

Usai rilis data inflasi Amerika Serikat, pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penguatan…

2 hari ago

Selama Angkutan Nataru 2025/2026, KAI Daop 2 Bandung Amankan 273 Barang Tertinggal Pelanggan

Bandung – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 2 Bandung mencatat keberhasilan dalam menjaga…

2 hari ago

Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa BINUS Cyber Security Sukses di Black Hat Europe 2025

Tahun 2025 menjadi titik penting dalam perjalanan Program Cyber Security BINUS University di ranah keamanan…

2 hari ago

Pensiun Dini di Usia Berapa dan Bagaimana Persiapannya?

Pensiun dini sering terdengar seperti mimpi besar. Bayangannya hidup lebih santai, waktu lebih fleksibel, dan…

2 hari ago

Drone Angkut DJI FlyCart 100 Dukung Pengiriman Barang Tanpa Mendarat

DJI FlyCart 100 dirancang untuk mendukung pengiriman logistik udara tanpa pendaratan di lingkungan dengan keterbatasan…

2 hari ago

This website uses cookies.