Categories: BATAM

Proyek Konstruksi BP dan Pemko Batam Diduga Gunakan Pasir Ilegal

BATAM – Pengusaha tambang pasir legal di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyoroti kerjasama Pemerintah Kota(Pemko Batam) Batam dengan perusahaan-perusahaan ready mix yang diduga menggunakan material pasir ilegal.

Seorang pengusaha tambang pasir berizin di Karimun, Edi SP mengatakan bahwa saat ini terdapat 12 ready mix penyuplai beton untuk proyek pemerintah yang bekerjasama dengan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA), serta Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Batam.

Edi menyebutkan perusahaan-perusahaan tersebut diduga membeli material pasir dari tambang-tambang ilegal yang ada di Kota Batam.

Disampaikan Edi, material pasir dan kerikil merupakan nyawa dari sebuah konstruksi. Untuk kerikil proyek pemerintah di Kota Batam berasal dari perusahaan legal di Kabupaten Karimun.

“Sementara di Batam tidak ada tata ruang tambang pasir darat. Nah, pasir ini dari mana? Kenapa BP dan pemko Batam melalui Dinas PUPR kok bisa bekerjasama dengan mereka? Dasar hukumnya apa?” bebernya kepada SwaraKepri, Rabu 7 Januari 2025 di Batam.

Menurut Edi, apabila pemerintah bekerjasama dengan perusahaan ready mix yang menggunakan material pasir ilegal, maka terdapat potensi kebocoran keuangan negara.

Disebutkan Edi, proyek pemerintah menggunakan bahan bangunan ilegal sangat dilarang dalam aturan hukum pengadaan barang, baik di Indonesia maupun secara internasional.

Selain itu, penggunaan bahan bangunan ilegal sangat dilarang dalam aturan pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Penggunaan bahan bangunan ilegal melanggar berbagai peraturan perundang-undangan, baik terkait standar mutu, perizinan usaha, perlindungan lingkungan hidup, hingga aturan pengadaan barang dan jasa pemerintah,” tegas Edi.

Edi menjelaskan, Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2021 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah secara tegas mensyaratkan seluruh proses pengadaan harus patuh terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, termasuk ketertelusuran asal bahan dan kepemilikan izin serta sertifikasi yang sah.

Menurutnya, penggunaan material ilegal juga berisiko terhadap kualitas dan keamanan bangunan. Bahan yang tidak memenuhi standar dapat menyebabkan kegagalan struktur, membahayakan keselamatan publik, serta merusak lingkungan.

“Yang legal bayar pajak, retribusi daerah serta DJPL untuk lingkungan. Harga kalah saing dengan ilegal. Bagaimana negara melindungi yg legal jika ilegal dibiarkan?” ujarnya.

Terpisah, M Hafis, Pegiat anti korupsi di Kepri mengatakan jika penggunaan pasir darat ilegal dalam proyek pemerintah berpotensi merugikan keuangan negara serta praktik culas dalam pengadaan barang dan jasa.

Page: 1 2

Redaksi - SWARAKEPRI

View Comments

Recent Posts

Kinerja Stabil, Metland Perluas Ekspansi di Sulawesi Utara

PT Metropolitan Land Tbk dengan kode emiten MTLA menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST)…

14 jam ago

Libur Panjang, UMKM Biasanya Hadapi Tantangan Ini

Libur panjang sering dianggap sebagai periode yang menguntungkan bagi pelaku usaha. Aktivitas masyarakat meningkat, pusat…

15 jam ago

Publik Mulai Sorot Perusahaan Asal Tiongkok di Batam, Diduga Langgar UU Ketenagakerjaan

BATAM – Sebuah perusahaan manufaktur asal Tiongkok tengah menjadi sorotan publik akibat pemberlakuan jam kerja…

15 jam ago

SUCOFINDO Tebar Semangat Berbagi melalui Penyembelihan Kurban Serentak di Seluruh Indonesia

Memperingati Hari Idul Adha 1447 Hijriah, PT SUCOFINDO (PERSERO) melaksanakan kegiatan penyembelihan hewan kurban secara…

15 jam ago

Pererat Kebersamaan, Manajemen BRI Region 6 Gelar Jogging Bersama di Kawasan TMII

Dalam upaya menjaga kesehatan sekaligus mempererat kebersamaan antarpekerja, manajemen BRI Region 6/Jakarta 1 menggelar kegiatan…

15 jam ago

Bapenda Sebut Cut and Fill PT. KBM di Kawasan Jembatan 1 Barelang Sudah Lunas Pajak MBLB

BATAM - Kepala Badan Pendapatan Daerah(Bapenda) Kota Batam, Raja Azmansyah menegaskan bahwa PT Kerabat Budi…

16 jam ago

This website uses cookies.