Categories: SOSIAL BUDAYA

Bali, Ketika Pariwisata “Di Luar Kendali” Merambah Pertanian dan Budaya

Warga lokal khawatir atas dampak turisme terhadap lahan, lingkungan, dan tradisi mereka.

BALI– Made Satri berjalan meniti tepian sawah miliknya dan meletakkan sesajen, persembahan berupa nasi kuning dari beras hasil panennya di atas sebuah tempat persembahyangan sederhana dari rangkaian bambu. Ia pun melantunkan doa kepada Dewi Sri, dewi padi dan kesuburan bagi umat Hindu.

Satri, 60, dan suaminya merupakan sedikit dari warga lokal yang masih bertahan menggarap tanah di Tegalallang, sebuah area persawahan di Bali, yang terkenal dengan keindahan panorama padinya.

Area yang semula hanya berupa hamparan hijau padi yang berundag-undag, kini telah dikelilingi dengan struktur beton; kafe, restoran dan bahkan kolam renang.

“Kami tidak akan pernah menjualnya, berapa pun uangnya,” kata Satri tentang sawahnya, yang luasnya sekitar 45 are (4.500 meter persegi). Alasannya, sawah tersebut dari orang tua, dan akan mereka wariskan juga ke anak laki-lakinya yang berkebutuhan khusus yang saat ini hanya bisa bekerja di rumah.

Pasangan suami istri itu membuka warung sederhana menjual air kemasan dan kartu pos sambil bercocok tanam padi. Satri dan suaminya tidak menjual hasil panennya; mereka mengonsumsinya sendiri.

Kisah mereka merefleksikan dilema yang dihadapi Pulau Dewata itu saat mencoba menyeimbangkan warisan budaya dan lingkungannya dengan tuntutan pembangunan ekonomi.

Bali telah lama menjadi magnet bagi wisatawan dari seluruh dunia. Namun, pariwisata juga menimbulkan tantangan seperti kepadatan penduduk, polusi, konversi lahan, dan erosi budaya di pulau yang mayoritas penduduknya beragama Hindu itu.

Satri kini menjadi saksi bagaimana Tegallang semakin dipadati bangunan permanen. Jika awalnya turis hanya minum kopi atau makan di tengah sawah, kini mereka berendam di kolam renang dengan air yang terus mengucur. Kontras dengan para petani yang bekerja keras membersihkan saluran irigasi airnya, di Bali dikenal dengan sistem subak.

Bagi Bali, subak bukan hanya sistem pengairan yang mengatur distribusi air antar sawah, namun juga merupakan lembaga sosial dan keagamaan yang memupuk keharmonisan komunal dan penghormatan terhadap alam.

Keunikan subak tersebut bersama lanskap teraseringnya yang tersebar di lima kabupaten di Bali, salah satunya Tegalallang, dicatat oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 2012.

Namun ketika turisme merambah wilayah persawahan, warisan itu terancam punah.

Wisatawan berjalan di dekat sawah yang diairi oleh sistem irigasi tradisional yang disebut “subak” di Bali, 18 April 2022. [Tatan Syuflana/AP]

Membangun Surga

Pembangunan dan pertumbuhan populasi di Bali, memberi tekanan besar pada sumber daya air, hal yang diperparah oleh salah urus sumber daya, demikian kata akademisi dan pencinta lingkungan.

Menurut data pemerintah daerah, pada 2020 terjadi kehilangan lahan pertanian terbesar dalam sejarah di Pulau Surga, salah satu julukan yang diberikan kepada Bali, dengan 1.200 hektar dikonversi menjadi peruntukan lain.

“Pariwisata telah menjadi masalah ketidakadilan agraria, budaya dan sosial,” kata laporan tersebut.

Laporan lainnya yang diterbitkan pada tahun 2018 oleh Transnational Institute, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Amsterdam, menemukan bahwa pariwisata sering menggusur petani dari tanah mereka, mengambil sumber daya air secara berlebihan dan mencemarinya, serta mengikis keragaman dan warisan varietas padi lokal.

Page: 1 2 3

Redaksi - SWARAKEPRI

Recent Posts

PF-Lestari, Inovasi Pertamina Foundation untuk Pemantauan Kehati Berbasis AI Raih APQA 2026

Di tengah meningkatnya kebutuhan transparansi, akurasi pelaporan, serta implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG),…

3 jam ago

Era Baru Diagnostik Penyakit Metabolik yang Lebih Personal Dikupas di Prodia Scientific Day 2026

Penyakit metabolik kini berkembang menjadi tantangan kesehatan yang semakin kompleks dan saling berkaitan. Kondisi seperti…

4 jam ago

PM Modi dan Prabowo Rayakan Persahabatan Indonesia-India Bersama Diaspora India

Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi menutup rangkaian agenda hari pertama kunjungan…

4 jam ago

Robotics Engineering Adalah Jurusan Masa Depan, Kenapa?

Transformasi digital di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, otomotif, logistik, kendaraan listrik, smart mobility, hingga artificial intelligence…

4 jam ago

Kalender Event Jakarta yang Semakin Padat di Bulan Juli Mendorong Tren Liburan Akhir Pekan Berbasis Pengalaman

Jakarta, 3 Juli 2026 – Dari pameran kecantikan dan fesyen hingga acara hewan peliharaan dan hiburan,…

5 jam ago

Kontribusi Nyata untuk Ekonomi Kerakyatan, BRI Setorkan Dividen Terbesar Sepanjang Sejarah di Bawah Supervisi Danantara

Di bawah supervisi Danantara, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat perannya sebagai penggerak…

6 jam ago

This website uses cookies.