Perkosaan Anak di Bawah Umur, Polda Sulteng Tetapkan 10 Tersangka

SULTENG – Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah menyatakan sebanyak sepuluh orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang disebut polisi sebagai “persetubuhan” terhadap anak di bawah umur di kabupaten Parigi Moutong. Seorang oknum anggota Polri yang diduga terlibat kasus itu ikut diperiksa aparat.

Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Irjen Pol Agus Nugroho mengatakan tujuh dari sepuluh orang yang ditetapkan sebagai tersangka telah ditangkap dan ditahan. Sementara tiga lainnya yang berinisial AW, AS dan AK – masih buron.

“Jika ada masyarakat mengetahui keberadaan dari ketiga pelaku ini mohon kiranya berkenan untuk menginformasikannya kepada kami, termasuk kami juga mengimbau kepada tiga tersangka yang masih buron ini untuk dapat menyerahkan diri kepada kami, sehingga secepatnya kami dapat menuntaskan perkara ini,” kata Irjen Pol Agus Nugroho dalam konferensi pers di Markas Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah di Palu, Rabu (31/5).

Selain itu, Polda Sulteng juga masih memeriksa seorang oknum anggota polisi berpangkat “ajun inspektur polisi dua” atau Aipda. Berdasarkan pengakuan korban, polisi yang di dadanya memiliki lambang pangkat satu balok bergelombang perak itu, juga melakukan perkosaan.

“Sementara terhadap pelaku oknum Polri, saudara MKS, sudah diamankan di Mako Satbrimobda (Satuan Brigade Mobil Daerah Polda Sulteng-Red) dan sampai saat ini masih dalam proses pemeriksaan,” ungkap Agus Nugroho.

Mengapa Polisi Menyebut “Persetubuhan,” Bukan “Perkosaan?”

Kasus perkosaan anak itu terjadi dalam rentang waktu April 2022 hingga Januari 2023, pada waktu dan tempat yang berbeda, yang dilakukan secara sendiri-sendiri oleh masing-masing pelaku yang saling mengenal satu sama lain.

Korban diketahui bekerja untuk memasak makanan di sebuah tempat bekas rumah adat yang menjadi tempat mangkal para pelaku di Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong.

Para pelaku, yang di antaranya ada yang berprofesi sebagai guru, mahasiswa, kepala desa dan wiraswasta, memperdayai korban yang saat itu baru berusia 15 tahun, dengan iming-iming uang dan barang.

Menurut polisi tidak ada pemaksaan berupa ancaman terhadap korban, atau perbuatan memberikan minuman keras atau obat terlarang, sehingga kasus itu, menurut Irjen Agus Nugroho, tidak tepat disebut sebagai tindak pemerkosaan melainkan kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur.

“Tindak pidana ini dilakukan berdiri sendiri-sendiri, tidak dilakukan secara bersama-sama. Modus operandi yang digunakannya pun bukan dengan kekerasan maupun ancaman kekerasan, melainkan dengan bujuk rayu, tipu daya, iming-iming,” kata Agus Nugroho.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 – yang merupakan penetapan Perppu tentang Perubahan Kedua atas UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak – jika terbukti bersalah para pelaku dapat dijatuhi hukuman penjara maksimal 15 tahun penjara.

RSUD Undata Palu: Organ Dalam Korban Rusak, Akan Dioperasi Minggu Depan

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Undata di Palu, drg. Herri mengatakan anak perempuan itu kini sedang menjalani perawatan di rumah sakit itu. Saat ini ditempatkan di ruangan isolasi untuk pemulihan kondisi fisik dan psikologis jelang tindakan operasi medis yang harus dilakukan untuk kebaikan pasien.

“Yang jelas rumah sakit Undata diberikan kepercayaan untuk melaksanakan pemulihan dari pasien tersebut, mudah-mudah operasinya rencana Minggu depan berjalan dengan baik,” kata drg Herri kepada wartawan di Palu, Rabu (31/5).

Drg Herri mengindikasikan ada kerusakan organ dalam tubuh pasien yang harus diangkat melalui operasi itu. Dokter tidak memberi penjelasan rinci, tetapi mengatakan akibat tindakan operasi tersebut korban tidak lagi akan dapat memiliki anak kelak.

Berdasarkan keterangan dari pihak Kepolisian, kasus ini terkuak setelah korban mengeluh sakit di bagian perut kepada orangtuanya. Korban pun menceritakan apa yang dialaminya sehingga kasus itu dilaporkan kepada Kepolisian setempat pada 25 Januari 2023./VOA

Redaksi - SWARAKEPRI

Recent Posts

KAI Bandara Layani 3,48 Juta Penumpang pada Semester I 2026

PT Railink (KAI Bandara) mencatat telah melayani sebanyak 3.482.897 penumpang selama periode Januari hingga Juni…

45 menit ago

PF-Lestari, Inovasi Pertamina Foundation untuk Pemantauan Kehati Berbasis AI Raih APQA 2026

Di tengah meningkatnya kebutuhan transparansi, akurasi pelaporan, serta implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG),…

4 jam ago

Era Baru Diagnostik Penyakit Metabolik yang Lebih Personal Dikupas di Prodia Scientific Day 2026

Penyakit metabolik kini berkembang menjadi tantangan kesehatan yang semakin kompleks dan saling berkaitan. Kondisi seperti…

6 jam ago

PM Modi dan Prabowo Rayakan Persahabatan Indonesia-India Bersama Diaspora India

Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi menutup rangkaian agenda hari pertama kunjungan…

6 jam ago

Robotics Engineering Adalah Jurusan Masa Depan, Kenapa?

Transformasi digital di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, otomotif, logistik, kendaraan listrik, smart mobility, hingga artificial intelligence…

6 jam ago

Kalender Event Jakarta yang Semakin Padat di Bulan Juli Mendorong Tren Liburan Akhir Pekan Berbasis Pengalaman

Jakarta, 3 Juli 2026 – Dari pameran kecantikan dan fesyen hingga acara hewan peliharaan dan hiburan,…

6 jam ago

This website uses cookies.