Categories: BATAM

Gerisman Achmad Beberkan Legalitas Tanah di Pantai Melayu Rempang

BATAM – Ketua Kerabat Masyarakat Adat Tempatan (KERAMAT), Gerisman Achmad menegaskan bahwa kawasan Pantai Melayu yang berada di Kelurahan Rempang Cate, Pulau Rempang, Kecamatan Galang merupakan warisan orang tua yang memiliki legalitas.

“Pantai Melayu itu dari warisan orang tua. Dari Ayah saya sendiri, kemudian dari Ayah mertua beserta keluarga besar, kami disini mempunyai legalitas semua,” ujarnya saat ditemui SwaraKepri di rumahnya, Senin, 4 September 2023.

“Katakanlah Surat Keterangan Tanah(SKT), kemudian meningkat ke Alas Hak dari Kecamatan saat masih Kabupaten Kepulauan Riau, kita juga bayar PBB(Pajak Bumi dan Bangunan) setiap tahun,” lanjutnya.

Ia mengatakan, Alas Hak Pantai Melayu terbit tahun 1998. Saat itu ada program dari Kecamatan Galang, Kabupaten Kepulauan Riau untuk menghindari adanya tumpang tindah dan sengketa lahan.

“Untuk menghindari itu maka dari surat keterangan tanah dari Kepala Desa ditingkatkan menjadi Alas Hak. Harapan warga bisa di sertifikat, tapi setelah kami gabung ke Kota Batam, hanya sekedar impian atau harapan, tak terwujud sampai hari ini,”bebernya.

Ilustrasi Surat Keterangan Tanah./Foto: Dok.SwaraKepri

Ia mengungkapkan bahwa sejak Surat edaran Wali Kota Batam No: 09/TP/I/2002 Tentang Tertib Pertanahan di Pulau Batam, Rempang dan Galang pada tanggal 17 Januari 2002, seluruh Camat, Kepala Desa dan Lurah tidak diperkenankan lagi menerbitkan surat-surat tanah.

“Sejak itu akses kami untuk mendapatkan legalitas kami yang lebih baik mengarah ke sertifikat hak milik sampai hari ini tertutup,”jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa legalitas lahan di Pantai Melayu bukan milik dia pribadi melainkan dimiliki oleh puluhan Kepala Keluarga.

“Seolah-olah pantai Melayu ini milik saya pribadi, itu tidak benar. Keluarga besar saya hampir 60 kepala keluarga. Selain aktivitas mereka berkebun, petani, penunjang yang paling dominan sekarang ini pariwisata, itulah kami kelola sesuai kemampuan kami. Dari pariwisata inilah kami bisa menyekolahkan anak-anak hingga bisa kuliah,”ujarnya.

Kata dia, Pantai Melayu dibuka untuk pariwisata sejak tahun 2000 atau sudah 23 Tahun, dan sudah pernah mendapat izin Pariwisata dari Dinas Pariwisata Kota Batam tahun 2011.

“Tentang perizinan, izin Tetap Pariwisata dari Dinas Pariwisata Kota Batam tahun 2011. Dikasih izin, kita juga bayar Pajak Daerah, Bayar Pajak Penghasilan,” jelasnya.

Page: 1 2

Redaksi - SWARAKEPRI

View Comments

Recent Posts

Kinerja Stabil, Metland Perluas Ekspansi di Sulawesi Utara

PT Metropolitan Land Tbk dengan kode emiten MTLA menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST)…

1 jam ago

Libur Panjang, UMKM Biasanya Hadapi Tantangan Ini

Libur panjang sering dianggap sebagai periode yang menguntungkan bagi pelaku usaha. Aktivitas masyarakat meningkat, pusat…

2 jam ago

Publik Mulai Sorot Perusahaan Asal Tiongkok di Batam, Diduga Langgar UU Ketenagakerjaan

BATAM – Sebuah perusahaan manufaktur asal Tiongkok tengah menjadi sorotan publik akibat pemberlakuan jam kerja…

3 jam ago

SUCOFINDO Tebar Semangat Berbagi melalui Penyembelihan Kurban Serentak di Seluruh Indonesia

Memperingati Hari Idul Adha 1447 Hijriah, PT SUCOFINDO (PERSERO) melaksanakan kegiatan penyembelihan hewan kurban secara…

3 jam ago

Pererat Kebersamaan, Manajemen BRI Region 6 Gelar Jogging Bersama di Kawasan TMII

Dalam upaya menjaga kesehatan sekaligus mempererat kebersamaan antarpekerja, manajemen BRI Region 6/Jakarta 1 menggelar kegiatan…

3 jam ago

Bapenda Sebut Cut and Fill PT. KBM di Kawasan Jembatan 1 Barelang Sudah Lunas Pajak MBLB

BATAM - Kepala Badan Pendapatan Daerah(Bapenda) Kota Batam, Raja Azmansyah menegaskan bahwa PT Kerabat Budi…

4 jam ago

This website uses cookies.