Categories: NASIONAL

Harga Anjlok, Petani Sawit Harapkan Peran Lebih Pemerintah

Strategi Dana BPDPKS

Dewan Pembina Institut Agroekologi Indonesia (INAgri), Achmad Ya’kub, sepakat dengan pilihan untuk menghapus kewajiban menyetor dana bagi BPDPKS, sementara ini.

“Ini usulannya, pabrik membeli sawit, tetapi tidak terkena potongan dana itu. Efektif usulan petani itu, jadi tidak ada lalu lintas uang yang masuk ke pabrik, pabrik tidak perlu bayar pajak ke pemerintah,” kata Achmad ketika dihubungi VOA.

Selama ini, pemerintah memang menetapkan pungutan ekspor sawit kepada industri. Namun, kenyataannya, pungutan itu sebenarnya dibebankan kepada petani ketika menjual sawit. Jika dihilangkan, dana itu tentu cukup membantu menolong petani mengatasi situasi sulit saat ini.

Achmad juga menekankan pentingnya pengawasan dari pemerintah, terkait kepatuhan PKS membeli sawit petani sesuai harga yang ditetapkan setiap periodenya.

“Harusnya, pemerintah langsung melakukan pengawasan di PKS-PKS. Paling efekif menerjunkan dinas pertanian dan Pemda untuk memastikan harga pembelian, sesuai dengan harga yang ditentukan pemerintah di lokasi tersebut,” tambah Achmad.

Ekosistem bisnis sawit selama ini memang tidak berimbang. Industri berkonsentrasi pada produksi CPO, dengan pendirian pabrik dan penguasaan lahan. Sementara, kata Achmad, petani sibuk pada peningkatan produksi dan perluasan lahan, tanpa belajar pengolahan pasca produksi. Peran pemerintah penting untuk memperbaiki ekosistem sawit yang stagnas sejak tahun 1980-an ini, kata Achmad.

Dalam jangka menengah, jalan keluar bisa dirintis dengan mendorong koperasi petani mengolah sawit untuk minyak goreng. Achmad mengatakan, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki belum lama berkunjung ke Sumatra untuk melihat upaya ini. Minyak goreng yang diproduksi memang berwarna merah dan memiliki bau, tetapi fungsinya sama. Diperlukan sosialisasi lebih agar masyarakat bisa menerima produk minyak goreng olahan koperasi petani ini.

“Kita dorong ekosistem supply chain kelapa sawit ini tidak tergantung teknologi tinggi dan modal besar. Jadi level masyarakat pun bisa melakukan itu. Tantangan ke depan justru mempopulerkan minyak ini karena berbau dan warnanya merah. Jadi butuh waktu agar konsumen beradaptasi,”ucapnya.

Page: 1 2 3 4 5

Redaksi - SWARAKEPRI

Recent Posts

Legalitas Playgroup Djuwita Perkasa Terungkap di RDP DPRD Batam

BATAM - Polemik soal legalitas Kelompok Bermain atau Playgroup Djuwita Perkasa akhirnya terungkap di Rapat…

1 hari ago

Air Lebih Jernih, Pengeluaran Lebih Hemat: Cerita Warga Condet Bersama PAM JAYA

Dibalik proses pembangunan tersebut, kini manfaatnya mulai dirasakan langsung oleh warga. Air minum perpipaan PAM…

1 hari ago

Hadir di Pameran Otomotif Sumatera Barat, BRI Finance Tawarkan Promo Bunga KKB 0%

Persaingan industri otomotif nasional semakin dinamis seiring masuknya berbagai merek baru dan meningkatnya kebutuhan masyarakat…

1 hari ago

BRI Finance Perkuat Kehadiran di Sumatera Barat, Hadirkan Promo Pembiayaan Kendaraan Bunga 0%

Padang, 12 Juni 2026 – Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat mobilitas…

1 hari ago

KAI Daop 2 Bandung Ajak Masyarakat Berperan Serta Jaga Keselamatan Perjalanan Kereta Api

Keselamatan dan keamanan perjalanan kereta api merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan sinergi antara petugas,…

1 hari ago

ENSIA 2026 Hadir Kembali, SUCOFINDO Dorong Inovasi Berkelanjutan dan Kolaborasi Lintas Sektor Hadapi Perubahan Iklim

Jakarta, 8 Juni 2026 – PT SUCOFINDO (PERSERO) resmi meluncurkan Environmental and Social Innovation Award…

1 hari ago

This website uses cookies.