Kekerasan Seksual Tersembunyi di Industri Film Indonesia

VOA – Penyalin Cahaya (2021) adalah film tentang kekerasan seksual yang menerima 12 Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2021. Sayang, karya hebat anak muda itu tercoreng karena tindak kekerasan seksual oleh salah satu kru, yang juga menerima penghargaan.

Pengungkapan kasus itu, setidaknya menjadi gambaran kecil bagaimana kekerasan seksual terjadi di industri film Indonesia. Olin Monteiro, feminis yang juga produser dokumenter perempuan, pernah meneliti fenomena itu.

“Sebelum pandemi aku bikin survei, tentang apakah Anda sebagai pekerja film mengalami kekeraan seksual. Dari 120 orang yang mengisi form, ada 98 orang yang mengalami,” kata Olin.

LETSS Talk dan Konde.co bekerja sama menyelenggarakan diskusi “Wajah Kekerasan Seksual dalam Industri Film Indonesia”, Minggu, (16/10) malam. Di Indonesia, industri ini relatif tertutup dalam kasus-kasus kekerasan seksual, meski diyakini kejadiannya cukup signifikan.

“Dan itu terjadi di dalam rentang sepuluh tahun terakhir ini kasusnya. Jadi bukan hanya sekarang, dalam sepuluh tahun terakhir kurang lebih,” tambah Olin.

Olin memaparkan, salah satu kesempatan terjadinya kekerasan seksual di industri film Indonesia, adalah dalam proses casting dengan bentuk bermacam-macam.

“Ketika orang mau jadi salah satu pemain, biasanya ada casting. Disuruh dialog, menari, menyanyi. Di dalam casting ini banyak sekali kasus, karena mereka disuruh buka baju, dipegang-pegang atau diraba-raba,” ujarnya.

“Terus body shaming juga. Seperti komentar, kok kamu gendut ya? Dan itu banyak orang enggak tahu, bahwa itu pelecehan verbal,” tandas Olin.

Dari lebih 90 kasus yang dicatat dalam penelitian Olin, sebanyak 80 persennya tidak dilaporkan. Hanya satu dua kasus saja, dimana korban kemudian melapor ke produser atau sutradara. Kasus ini juga terjadi dalam produksi sinetron atau film televisi, yang bahkan menurut Olin, lebih banyak pihak yang terlibat tidak menerima perlindungan yang cukup dari sutradara atau produser.

“Dibilang, kamu jangan bikin ribut-ribut deh, masa gara-gara gitu aja kamu bawel. Seperti itu, karena memang ada kesalahan pemahaman di dunia film, bahwa ketika orang dilecehkan itu dianggap biasa aja. Ya sudah itu bercandaan, itu biasa, hal yang normal,” tambah Olin.

Gerakan Me Too di Amerika Serikat, menurut Olin menjadi salah satu pendorong korban kekerasan seksual di industri film berani bersuara. Meski begitu, industri ini masih memerlukan iklim yang kondusif, agar lebih banyak korban berani menguak kekerasan seksual yang terjadi padanya.

Page: 1 2 3 4

Redaksi - SWARAKEPRI

Recent Posts

BRI Finance Catatkan Pertumbuhan Pembiayaan Mobil Bekas 169,34 Persen

Di tengah kebutuhan masyarakat akan kendaraan pribadi yang tetap tinggi, mobil bekas semakin menjadi pilihan…

23 jam ago

Lebih dari 1 juta Ton Barang Diangkut via Kereta Kontainer, Setara Mengurangi Pergerakan Hampir 60 Ribu Truk di Jalan Raya

Pada Mei 2026, KAI Logistik berhasil mencatatkan kinerja keseluruhan angkutan barang dengan volume sebesar 1.658.622…

24 jam ago

UU P2SK Resmi Disahkan, Nasib Industri Kripto RI Bakal Berubah?

Pengesahan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan atau UU P2SK dinilai menjadi momentum penting…

24 jam ago

Perjalanan Irham Mengembangkan Diri di BINUS @Bandung

Dalam proses pendidikan tinggi, pengalaman yang diperoleh mahasiswa tidak hanya terbatas pada pembelajaran akademik di…

1 hari ago

BINUS Dorong Pasar Bunga Rawa Belong Jadi Destinasi Florikultura

BINUS University terus memperkuat revitalisasi Pasar Bunga Rawa Belong sebagai pusat florikultura terbesar di Asia…

1 hari ago

Perluas Akses Pembiayaan Kendaraan, BRI Finance Bawa Promo Bunga 0% ke Sumatera Barat

Padang, 9 Juni 2026 – Persaingan industri otomotif nasional semakin dinamis seiring masuknya berbagai merek…

1 hari ago

This website uses cookies.