JAKARTA-Perut buncit menjadi pertanda menumpuknya lemak dalam tubuh. Beragam hal bisa menjadi penyebab perut buncit, mulai dari kebiasaan mengonsumsi alkohol hingga stres.
Namun, perut buncit tak sekadar penumpukan lemak. Lebih dari itu, kelebihan lemak pada perut dapat meningkatkan beberapa risiko penyakit seperti gangguan jantung, tekanan darah tinggi, stroke, diabetes tipe-2, asma, kanker payudara, kanker usus besar, dan demensia.
Untuk menghindari sejumlah risiko tersebut, Anda perlu menghindari sederet penyebab perut buncit berikut, mengutip Medical News Today.
Pola makan yang buruk
Makanan dan minuman manis diketahui dapat menyebabkan kenaikan berat badan, memperlambat proses metabolisme, dan mengurangi kemampuan seseorang membakar lemak. Alhasil, perut menjadi buncit.
Selain itu, diet tinggi karbohidrat dan rendah protein juga dapat memengaruhi berat badan. Protein membantu seseorang merasa kenyang lebih lama. Orang-orang yang tidak memasukkan protein dalam pola makan hariannya akan cenderung lebih banyak mencari camilan.
Tak hanya itu, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji yang penuh dengan kandungan lemak trans juga berkontribusi pada kelebihan berat badan. Lemak trans dapat menyebabkan peradangan dan obesitas. American Heart Association merekomendasikan untuk mengganti lemak trans dengan lemak tak jenuh.
Terlalu banyak mengonsumsi alkohol
Mengonsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit hati dan peradangan.
Sebuah studi pada 2015 yang dipublikasikan pada jurnal Current Obesity Reports menunjukkan bahwa konsumsi alkohol berlebih menyebabkan penambahan berat badan di sekitar perut pria.
Kurang olahraga
Jika seseorang terus mengonsumsi kalori tanpa melakukan pembakaran lemak seperti berolahraga, berat badan akan terus bertambah. Gaya hidup tidak aktif membuat seseorang sulit membuang lemak berlebih, terutama di sekitar perut.
Stres
Hormon kortisol membantu tubuh mengendalikan dan mengatasi stres. Dalam kondisi stres, tubuh akan melepaskan kortisol yang berdampak pada proses metabolisme.
Beberapa orang cenderung mengonsumsi banyak makanan saat merasa stres. Alhasil, kortisol menyebabkan kelebihan kalori di sekitar perut.
Gen
Sejumlah bukti menunjukkan bahwa faktor gen dapat menentukan bentuk tubuh, termasuk perut buncit. Para ilmuwan beranggapan bahwa gen dapat memengaruhi perilaku, proses metabolisme, dan risiko obesitas.
Pola tidur yang buruk
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Sleep Medicine menunjukkan, kualitas tidur yang buruk dapat meningkatkan berat badan, khususnya lemak pada perut.
Kurang tidur dianggap berpotensi menimbulkan perilaku makan yang tidak sehat.
Merokok
Meski tak secara menjadi penyebab perut buncit, tapi para peneliti percaya bahwa merokok menjadi salah satu faktor risikonya. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Plos One menemukan, perokok memiliki lebih banyak lemak di perut daripada non-perokok.
Sumber: CNN Indonesia.com
BRI Region 6 menunjukkan komitmennya dalam mendorong kreativitas dan kolaborasi dengan mengirimkan lima perwakilan pekerja…
BATAM - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Batam menolak eksepsi terdakwa Dju Seng anak dari Lim…
Kondisi geopolitik dunia saat ini sedang berada dalam tensi tinggi, menyusul langkah Amerika Serikat (AS)…
Kebutuhan akan hunian yang nyaman, fungsional, dan adaptif terhadap dinamika gaya hidup terus mengalami peningkatan…
MIND ID sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui…
Solusi AI meeting analytics MiiTel Meetings yang dikembangkan oleh RevComm kini dilengkapi dengan fitur Real-Time Talk Assistant.…
This website uses cookies.