Categories: RIAU

Sidang Gugatan PTPN IV di PN Bangkinang, Begini Keterangan 2 Saksi dari Tergugat

RIAU – Sidang gugatan perdata PT Perkebunan Nusantara(PTPN) IV Regional III terhadap Koperasi Produsen Petani Sawit Makmur (KOPPSA-M) dan masyarakat Desa Pangkalan Baru kembali digelar di Pengadilan Negeri Bangkinang, Provinsi Riau, Selasa 18 Maret 2025.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Soni Nugraha didampingi Hakim Anggota Aulia Fhatma Widhola dan Ridho Akbar beragendakan mendengarkan keterangan saksi-saksi dari tergugat.

Hadir pada persidangan kali ini Kuasa Hukum KOPPSA-M selaku tergugat I, Armilis Ramaini, Herry Supriyadi dan Ryand Armilis, serta Kuasa Hukum dari PTPN IV Regional III selaku penggugat Wahyu Awaludin.

Dua orang saksi dari tergugat yakni Suhaita(Petani KOPPSA-M) dan Nurul Fajri (mantan pekerja PTPN V(sekarang PTPN IV Regional III) memberikan keterangan di persidangan.

Suhaita, dalam keterangannya mengaku pernah mengikuti Rapat Anggota Tahunan(RAT) pada tahun 2013 saat Mustaqim menjabat sebagai Ketua KOPPSA-M. Namun ia mengaku tidak pernah mendengar soal  persetujuan konversi hutang dan take over ke Bank Mandiri.

“Saya ikut kala itu, namun mengenai apa itu konversi, take over dan sebagainya, saya tidak mendengar dan tidak pernah disampaikan oleh pengurus atau panitia RAT saat itu. Karena setelah RAT ditutup saya pulang,”bebernya.

Ia mengaku mengetahui soal adanya kredit Bank Mandiri setelah ada gugatan PTPN IV Regional III terhadap KOPPSA-M dan masyarakat Desa Pangkalan Baru.

“Saya tahu ada hutang sebanyak itu baru sekarang, semasa ketua Nusirwan,”ucapnya.

Suhaita juga mengatakan bahwa pada tahun 2014 ada digelar rapat, tapi tidak ada pembahasan atau pembaharuan soal hutang petani yang bertambah. Ia mengaku pernah menerima hasil kebun sebesar Rp50.000 sampai Rp500.000 per bulan semasa ketua KOPPSA Antoni Hamzah. Sedangkan semasa Ketua sekarang kami menerima lebih besar yaitu Rp Rp1 juta.

Sementara itu Nurul Fajri, mantan pekerja PTPN V tahun 2005 yang berstatus sebagai Buruh Harian (BHR) mengungkapkan bahwa penanaman kelapa sawit saa itu tidak berjalan maksimal dikarenakan akses jalan yang tidak memadai.

“Saya sebagai BHR waktu itu, pekerjaan menanam sawit dilahan tersebut. Namun pekerjaan kami terhambat karena akses jalan yang tidak ada,”ujarnya.

Kata dia, pekerjaan saat itu dikerjakan sebatas kesanggupan mereka, karena mobilitas hanya dengan jalan kaki dan pakai sampan.

“Karena kondisi lapangan yang sangat tidak mendukung, akhirnya kami mengerjakan semampu tenaga kami. Kami jalan kaki dan ada juga kami melansir bibit pakai sampan,”jelasnya.

Page: 1 2

Redaksi - SWARAKEPRI

View Comments

Recent Posts

BRI Finance Bukukan Laba Rp91 Miliar di Tengah Dinamika Industri Pembiayaan

Jakarta, 15 April 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) mencatatkan laba sebesar Rp91…

3 jam ago

Saat AI Tak Bisa Berdiri Sendiri: BINUS Kukuhkan Prof. Tanty Oktavia, Soroti Pentingnya Human–AI Collaboration

Di tengah percepatan transformasi digital, kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) menjadi kunci dalam…

5 jam ago

Metodify Hadir sebagai Platform AI Akademik untuk Mendukung Penulisan Artikel Ilmiah

Metodify merupakan platform AI akademik yang dirancang untuk membantu mahasiswa dan peneliti dalam menyusun artikel…

5 jam ago

Perkuat Mitigasi Risiko Hukum, BRI Finance Kerja Sama dengan Kejari Jakarta Utara

Jakarta, 1 April 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) memperkuat aspek tata kelola…

6 jam ago

Perusahaan Mulai Mengevaluasi Strategi Infrastruktur dan Keamanan IT di Tengah Transformasi Digital

Perusahaan di Indonesia mulai mengevaluasi kembali strategi infrastruktur IT, virtualisasi server, dan keamanan siber seiring…

7 jam ago

Dua Saksi Ahli Beda Pendapat Soal Legal Standing BP Batam di Sidang Bowie Yoenathan

BATAM - Pakar Hukum Kehutanan, Bambang Wiyono S.H.,M.H dihadirkan Penasehat Hukum terdakwa Bowie Yoenathan untuk…

18 jam ago

This website uses cookies.