LINGGA – Persoalan pemadaman listrik di wilayah Singkep Barat, Kabupaten Lingga, kembali menjadi sorotan masyarakat. Pasalnya, pemadaman listrik yang terjadi hampir setiap hari, bahkan bisa berlangsung dua hingga tiga kali dalam sehari, membuat warga semakin resah dan mempertanyakan kapan persoalan tersebut dapat benar-benar diselesaikan.
Kondisi ini semakin dikeluhkan karena pemadaman kerap terjadi tanpa adanya pemberitahuan maupun imbauan terlebih dahulu dari pihak PLN. Akibatnya, masyarakat sering kali harus menghadapi situasi gelap gulita, terutama saat menjelang malam hari, ketika aktivitas rumah tangga masih berlangsung.
Bukan hanya mengganggu kenyamanan dan aktivitas masyarakat, pemadaman listrik secara tiba-tiba juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kerusakan berbagai peralatan elektronik milik warga.
Pasalnya, listrik yang mendadak padam dan kemudian kembali menyala tanpa pemberitahuan dapat berisiko mengganggu perangkat elektronik, seperti televisi, kulkas, mesin air, komputer, hingga peralatan rumah tangga lainnya.
Masyarakat pun mulai mempertanyakan tanggung jawab serta langkah konkret pihak PLN dalam mengatasi persoalan yang seolah terus berulang tersebut. Mereka berharap pemadaman tidak lagi menjadi persoalan rutin yang harus diterima setiap hari tanpa adanya kepastian penyelesaian.
Bahkan, dalam satu pekan terakhir, sejumlah kepala desa bersama camat dan tokoh masyarakat di wilayah Kecamatan Singkep Barat sempat mendatangi Kantor PLN Dabo Singkep. Kedatangan tersebut dilakukan untuk menyampaikan secara langsung keluhan masyarakat terkait pemadaman listrik yang kerap terjadi secara mendadak.
Menanggapi keluhan tersebut, Manajer PLN ULP Dabo, Zul Ilmi, menjelaskan bahwa pemadaman listrik terbagi menjadi dua jenis, yakni pemadaman terencana dan pemadaman tidak terencana yang disebabkan oleh gangguan jaringan.
Ia juga menjelaskan bahwa proses penanganan gangguan membutuhkan waktu, terutama apabila petugas harus didatangkan dari Dabo Singkep menuju wilayah yang mengalami gangguan.
“Kalau petugas harus datang dari Dabo, tentu membutuhkan waktu perjalanan sekitar 45 menit hingga satu jam. Sementara masyarakat berharap ketika listrik padam, bisa segera ditangani, apalagi kalau pemadamannya berlangsung sampai berjam-jam,” jelas Zul Ilmi pada Rabu (28/10/2026) lalu.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab keresahan masyarakat yang setiap hari harus berhadapan dengan pemadaman listrik berulang.
Pertanyaan mendasar yang kini muncul di tengah masyarakat adalah, sampai kapan pemeliharaan jaringan dan penanganan gangguan listrik tersebut akan berlangsung? Kapan persoalan dahan maupun ranting pohon yang berdekatan dengan kabel dan jalur jaringan listrik dapat ditangani secara menyeluruh agar tidak terus menjadi penyebab gangguan?
Sebab, jika pemadaman terus terjadi tanpa adanya kepastian waktu penyelesaian, masyarakat tentu akan semakin dirugikan. Terlebih, pemadaman yang berlangsung berulang kali bukan hanya menghambat aktivitas sehari-hari, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian materi akibat terganggunya peralatan elektronik.
Masyarakat berharap PLN tidak hanya melakukan penanganan setiap kali terjadi gangguan, tetapi juga mengambil langkah pencegahan melalui pemeriksaan dan pemeliharaan jaringan secara menyeluruh, termasuk penertiban dahan pohon yang berpotensi mengganggu jaringan listrik.
Selain itu, keterbukaan informasi mengenai jadwal pemadaman, penyebab gangguan, serta target penyelesaian pemeliharaan jaringan juga dinilai penting agar masyarakat tidak terus-menerus dibuat bertanya-tanya.
Pada akhirnya, masyarakat tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan pasokan listrik yang stabil, pelayanan yang maksimal, serta pemberitahuan yang jelas apabila memang harus dilakukan pemadaman.
Jangan sampai pemadaman listrik yang seharusnya menjadi kondisi sementara justru berubah menjadi persoalan rutin yang terus membayangi kehidupan masyarakat wilayag Singkep Barat dan sekitarnya./ruslan
