Categories: NASIONAL

Komjen Idham Azis, Calon Kapolri dengan Segudang Prestasi

Komisi III DPR menyetujui Komisaris Jenderal Polisi Idham Azis sebagai Kapolri baru usai melaksanakan uji kepatutan dan uji kelayakan atau fit and proper test pada hari ini, Rabu (30/10). Idham akan menggantikan Tito Karnavian yang kini menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri.

Idham Azis lahir di Kendari, Sulawesi Tenggara, 30 Januari 1963. Dia merupakan polisi lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1988.

Mengawali karir sebagai polisi sebagai Pamapta Polres Bandung, Jawa Barat. Sebulan kemudian, dia diangkat menjadi Kepala Urusan Bina Operasi Lalu Lintas Polres Bandung.

Karir Idham terus menanjak. Pada Juli 1999, Idham diangkat sebagai Kepala Unit VC Satuan Serse UM Direktorat Serse Polda Metro Jaya. Setahun menjabat, ia dipercaya menjadi wakil kepala Satuan Serse UM Direktorat Serse Polda Metro Jaya.

Nama Idham terus bersinar. Dia dipercaya sebagai perwira menengah Sekolah Staf dan Kepemimpinan Dediklat Polri dan kepala Satuan I Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah metro Jaya di tahun yang sama, yakni 2002.

Pencapaiannya tersebut, ia peroleh usai terlibat bersama Tim Kobra bentukan Tito Karnavian pada tahun 2000. Tim tersebut merupakan gabungan dari 25 personel yang telah menempuh pendidikan kejuruan reserse. Tim Kobra dibentuk guna memburu putra bungsu presiden RI kedua Soeharto Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto. Kala itu, Tommy terlibat kasus pembunuhan terhadap hakim agung Syafiuddin Kartasasmita.

Tim Kobra berhasil menangkap Tommy pada 28 November 2001.

Kasus Poso, Bom Bali dan Novel Baswedan

Seiring waktu berjalan, karir Idham terus merangkak naik.

Idham, bersama Tito Karnavian, Petrus Reinhard Golose (sekarang Kapolda Bali), dan Rycko Amelza (sekarang Kapolda Jawa Tengah) mendapat penghargaan dari Kapolri saat itu, yakni Jenderal Sutanto. Penghargaan disematkan berkat prestasi mereka melumpuhkan orak Bom Bali II Dr. Azahari dan kelompoknya di Batu, Jawa Timur pada 5 November 2005.

Kemudian pada 3 Juni 2005, ia menjabat sebagai dan tercatat berhasil melumpuhkan sejumlah kasus terorisme. Seperti menumpaskan otak bom bali II, Dr. Azhari di Batu, Malang, Jawa Timur pada 9 November 2005 bersama Tito Karnavian.

Tak lama kemudian, Idham diminta terbang ke Poso, Sulawesi Tengah untuk mengusut kasus mutilasi di Poso. Dia diangkat menjadi Wakil Ketua Satgas Bareskrim Poso. Satgas tersebut diketuai oleh Tito Karnavian.

Mutilasi tiga siswi SMA di Poso itu memantik konflik agama di Poso. Masyarakat resah dan menjadi tidak percaya kepada pemerintah serta aparat. Akhirnya terjadi bentrok antara masyarakat penganut agama Islam dan Kristen di wilayah tersebut.

Dalam operasi saat itu, satgas khusus berhasil membongkar dan menangkap puluhan tersangka yang menjadi buron.

Usai menyelesaikan kasus Poso, Idham diangkat sebagai Kepala Unit Pemeriksaan Sub Detasemen Investigasi Densus/Antiteror. Karirnya terus menanjak.

Pada 2008, Idham diangkat sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Dua tahun berselang, Idham dipercaya menjadi Wakil Kepala Densus 88/Anti-Teror Polri dilanjut menjadi Kapolda Sulawesi Tengah pada 2014.

Pada 20 Juli 2017, ia menjadi Kapolda Metro Jaya ke-37 menggantikan Komjen Pol. Mochamad Iriawan. Dia berhasil mengungkap kasus penyelundupan narkotika jenis ganja seberat 1,3 ton dari Aceh ke Jakarta serta penyelundupan 1 ton sabu-sabu dari Taiwan di Anyer, Banten.

Pada 22 Januari 2019, Idham ditunjuk untuk menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri menggantikan Komjen Pol. Arief Sulistyanto yang ditugaskan menjadi kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri.

Selain itu, Idham juga turut ikut dalam tim investigasi penanganan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan sebagai penanggung jawab tim teknis. Tim mulai bekerja pada 19 Juli 2019.

Namun, hingga batas waktu yang ditentukan, tim masih belum bisa mengungkap pelaku penyerangan Novel Baswedan. Tenggat waktu yang diberikan Presiden Jokowi yakni pada 19 Oktober lalu. Kasus Novel menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Idham Azis.

Artikel ini disadur dari https://m.cnnindonesia.com/nasional/20191030173653-20-444236/idham-azis-antara-tommy-soeharto-dr-azahari-dan-novel

Redaksi - SWARAKEPRI

Recent Posts

BRI Finance Permudah Kepemilikan Motor Premium Lewat Pembiayaan Bunga Mulai 0,7%

Di tengah mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, kebutuhan akan kendaraan roda dua tidak lagi semata-mata…

2 jam ago

BRI Finance Perkuat Struktur Pendanaan di Tengah Tren Kenaikan Suku Bunga Acuan

Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75% menjadi salah satu faktor yang terus dicermati…

2 jam ago

Deposito Fleksibel untuk Kebutuhan Tidak Pasti, Opsi Saat Dana Mungkin Dibutuhkan Sewaktu-Waktu

Banyak orang ingin menyimpan dana di deposito karena menawarkan bunga yang umumnya lebih tinggi dibanding…

2 jam ago

Rekomendasi Tempat Jual Beli Tas Mewah Branded Original yang Aman dan Terpercaya

deGadai menjadi salah satu rekomendasi tempat jual beli tas mewah branded original yang aman dan…

2 jam ago

Komisi B DPRD DKI Jakarta Tinjau Pengelolaan NRW PAM JAYA, Dorong Peningkatan Efisiensi Layanan Air Perpipaan

Melalui peninjauan ini, PAM JAYA berharap masyarakat semakin memahami bahwa pengelolaan NRW merupakan salah satu…

5 jam ago

Lepas Penat di Luxor Spa & Massage di K Square Batam

BATAM – Di tengan padatnya aktivitas, kebutuhan akan ruang relaksasi yang nyaman semakin dicari. Bagi…

6 jam ago

This website uses cookies.