Pakar: Industri Farmasi Tak Mungkin Campurkan Bahan Berbahaya dalam Obat

EG dan DEG sendiri sudah digunakan sejak lama. Di masa lalu, kedua bahan ini menjadi pelarut tambahan, tetapi bukan dalam industri farmasi.

Sejarah mencatat peristiwa keracunan akibat penggunaan dua material itu pernah pula terjadi. Menurut Syaifullah, peristiwa keracunan karena EG atau DEG menghantam Amerika Serikat pada 1937 karena pada saat itu tata cara penggunaan kedua material itu belum ada, sehingga masih digunakan secara bebas.

”Kemudian juga tercatat insiden di China. Pernah terjadi masuk dalam komponen pasta gigi yang murah. Kemudian juga di Eropa, pernah untuk memberi rasa lebih enak pada anggur yang dibuat. Dengan menambahkan EG, rasa anggurnya lebih enak,” papar Syaifullah.

Karena itu, penelitian harus dilakukan lebih mendalam untuk mengetahui faktor yang menyebabkan munculnya EG dan DEG dalam sirop obat yang dikonsumsi anak-anak tersebut. Sejumlah pertanyaan harus dimunculkan, seperti jika bahan bakunya sudah diuji, apakah produk jadi obat diuji juga sebelum dirilis. Bagaimana juga dengan pengujian terhadap bahan tambahan.

Sirup obat batuk yang mengandung dekstrometorfan dipajang di apotek di Edmond, Oklahoma, sebagai ilustrasi. (Foto: AP)

“Ini, siropnya sudah berapa lama beredar? Atau sudah dibuka berapa lama? Apakah pernah dibuka kemudian disimpan kembali?” beber Syaifullah.

Selain itu, tambahnya, harus diselidiki pula bagaimana proses penyimpanan dan pendistribusian produk tersebut.

Panduan Bagi Orangtua

Direktur Sumber Daya Manusia dan Akademik, RSA UGM Ika Puspita Sari Ph.D mengatakan orangtua memegang peranan penting untuk melakukan deteksi awal, apakah anaknya mengalami keracunan EG dan DEG. Pengamatan pertama dilakukan di rumah, dan karena itu kewaspadaan harus ditingkatkan.

“Khususnya jika ada gejala infeksi demam, kemudian ada, diare, muntah, sesak, batuk pilek. Kemudian yang penting, kalau dia sepertinya kondisinya normal, apakah ada indikasi rawat atau tidak, salah satunya adalah kalau ada ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas ), kemudian ada volume urine berkurang,” papar Ika.

Jika ada indikasi perlu perawatan, petugas kesehatan akan melakukan pemeriksaan ureum dan kreatinin. Jika ternyata tinggi, keputusan untuk melakukan perawatan di rumah sakit akan langsung diberikan. Jikapun tidak dirawat di RS, orangtua akan diminta untuk memantau volume urine di rumah. Pemantauan setidaknya dilakukan selama 12 atau 24 jam.

Karena harus dipantau ketat, dalam kondisi ini Ika meminta orang tua tidak memakaikan popok sekali pakai ke anak.

“Kalau yang agak sulit sekarang memakai diapers. Dalam kondisi sedang sakit, jangan dipakaikan dulu, karena harus tahu kira-kira dia urinasi atau enggak,” ujarnya.

Tanpa pemakaian popok sekali pakai, menurut Ika, orangtua akan lebih mudah memantau apakah anak buang air kecil atau tidak selama selama periode 12 jam.

“Sekarang orangtua sudah keenakan dengan menggunakan diapers, sehingga tidak perhatian dengan kejadian itu. Sekarang mestinya kita ingatkan kembali,” tegasnya.

Page: 1 2 3

Redaksi - SWARAKEPRI

Recent Posts

Legalitas Playgroup Djuwita Perkasa Terungkap di RDP DPRD Batam

BATAM - Polemik soal legalitas Kelompok Bermain atau Playgroup Djuwita Perkasa akhirnya terungkap di Rapat…

1 hari ago

Air Lebih Jernih, Pengeluaran Lebih Hemat: Cerita Warga Condet Bersama PAM JAYA

Dibalik proses pembangunan tersebut, kini manfaatnya mulai dirasakan langsung oleh warga. Air minum perpipaan PAM…

2 hari ago

Hadir di Pameran Otomotif Sumatera Barat, BRI Finance Tawarkan Promo Bunga KKB 0%

Persaingan industri otomotif nasional semakin dinamis seiring masuknya berbagai merek baru dan meningkatnya kebutuhan masyarakat…

2 hari ago

BRI Finance Perkuat Kehadiran di Sumatera Barat, Hadirkan Promo Pembiayaan Kendaraan Bunga 0%

Padang, 12 Juni 2026 – Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat mobilitas…

2 hari ago

KAI Daop 2 Bandung Ajak Masyarakat Berperan Serta Jaga Keselamatan Perjalanan Kereta Api

Keselamatan dan keamanan perjalanan kereta api merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan sinergi antara petugas,…

2 hari ago

ENSIA 2026 Hadir Kembali, SUCOFINDO Dorong Inovasi Berkelanjutan dan Kolaborasi Lintas Sektor Hadapi Perubahan Iklim

Jakarta, 8 Juni 2026 – PT SUCOFINDO (PERSERO) resmi meluncurkan Environmental and Social Innovation Award…

2 hari ago

This website uses cookies.