Apalagi, kekecewaan masyarakat terkait polemik ini sudah sangat dalam karena beberapa hari yang lalu juga ada upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak pemerintah dan pengelola untuk memaksakan pememasang patok-patok tata batas wilayah, sehingga kondisi yang demikian itu masyarakat merasa situasi yang tidak kondusif untuk pihak kepolisian melakukan pengambilan sampel batu di batu miring ini dengan cara di bongkar batunya.
“Untuk itu, dengan kondisi yang sempat sedikit memanas tadi, kemudian Kepolisian memutuskan untuk menunda pengambilan sampel batu dan meminta masyarakat untuk membuat surat keberatan dilakukan pengambilan sampel atau membongkar batu tersebut, supaya ada dokumentasi kegiatan ini nantinya,” tegasnya.
Pantauan SwaraKepri di lokasi, saat berlangsungnya kegiatan pemeriksaan ini, insiden keributan sempat terjadi setelah DKP yang membawa dua orang tukang bangunan berusaha mengambil susunan batu tersebut menggunakan linggis, hal itu memicu kemarahan masyarakat pantai Melayu.
“Kita tidak menduga bahwa kalau mau mengambil sampel tidak harus membongkar batu miring tersebut. Karena kalau pemeriksaan laboratorium itu kan cara-caranya tidak harus membongkar batu miring tersebut, sehingga kalau dibiarkan (Pembongkaran batu miring) akan terbongkar semua kalau dibiarkan,” pungkasnya./Shafix
Page: 1 2
Jakarta, 8 Juni 2026 – PT SUCOFINDO (PERSERO) resmi meluncurkan Environmental and Social Innovation Award…
Peran rumah dalam kehidupan masyarakat terus berkembang seiring perubahan pola aktivitas dan gaya hidup. Tidak…
Pergerakan harga emas dunia masih menunjukkan kecenderungan melemah pada perdagangan pekan ini. Meskipun sesekali muncul…
Dalam rangka memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun Kota Jakarta ke-499 menuju lima abad Jakarta, BINUS…
PT Pelindo Multi Terminal Branch Parepare terus meningkatkan pengawasan dan pengendalian di kawasan Pelabuhan Nusantara…
BRI Region 6 kembali menyelenggarakan kegiatan Pengajian Rutin Jumat yang diikuti oleh jajaran manajemen dan…
This website uses cookies.