Demikian halnya dengan perempuan paruhbaya yang akrab disapa Mak Long, ikut merasakan hati yang lega saat berada di kerumunan warga yang tengah berkumpul dan berdiskusi.
“Tiap hari saya takut terus selama ini. Terkadang saya mengunci pintu supaya tidak ada petugas yang masuk rumah. Pokoknya kami gak mau dicabut dari tanah moyang kami,” ujar Mak Long.
Dalam diskusi tersebut warga juga membahas masalah pertanian yang belum diperhatikan dalam isu-isu permasalahan di Pulau Rempang. Padahal di Sembulang sendiri mampu menyumbang 10 hingga 12 ton sayuran per hari untuk mensuplai kebutuhan di Kota Batam.
Jika pertanian ditutup, maka efek-efek lain juga akan banyak yang muncul seperti kelangkaan sayur yang bisa mendorong kenaikan harga, hilangnya pekerjaan dari rantai pekerjaan sayuran, hingga naiknya pengeluaran untuk kebutuhan sayur bagi masyarakat di Kota batam.
“Saya kira efek domino dari hal ini juga penting diperhatikan,” terang Mang jaja./Din
Page: 1 2
Semarang (14/01) – PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) menegaskan bahwa Jalan Tol Batang–Semarang merupakan salah…
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus bergerak mendukung pemulihan layanan dasar pascabencana di Provinsi Aceh. Fokus…
Usai rilis data inflasi Amerika Serikat, pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penguatan…
Bandung – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 2 Bandung mencatat keberhasilan dalam menjaga…
Tahun 2025 menjadi titik penting dalam perjalanan Program Cyber Security BINUS University di ranah keamanan…
Pensiun dini sering terdengar seperti mimpi besar. Bayangannya hidup lebih santai, waktu lebih fleksibel, dan…
This website uses cookies.
View Comments