Demikian halnya dengan perempuan paruhbaya yang akrab disapa Mak Long, ikut merasakan hati yang lega saat berada di kerumunan warga yang tengah berkumpul dan berdiskusi.
“Tiap hari saya takut terus selama ini. Terkadang saya mengunci pintu supaya tidak ada petugas yang masuk rumah. Pokoknya kami gak mau dicabut dari tanah moyang kami,” ujar Mak Long.
Dalam diskusi tersebut warga juga membahas masalah pertanian yang belum diperhatikan dalam isu-isu permasalahan di Pulau Rempang. Padahal di Sembulang sendiri mampu menyumbang 10 hingga 12 ton sayuran per hari untuk mensuplai kebutuhan di Kota Batam.
Jika pertanian ditutup, maka efek-efek lain juga akan banyak yang muncul seperti kelangkaan sayur yang bisa mendorong kenaikan harga, hilangnya pekerjaan dari rantai pekerjaan sayuran, hingga naiknya pengeluaran untuk kebutuhan sayur bagi masyarakat di Kota batam.
“Saya kira efek domino dari hal ini juga penting diperhatikan,” terang Mang jaja./Din
Page: 1 2
PTPN IV PalmCo, Subholding Perkebunan Nusantara terus mempercepat transformasi sumber daya manusia melalui program sertifikasi…
Minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi pada saham perusahaan global, khususnya saham di pasar Amerika Serikat,…
Audiensi Pendiri BioMom Swiluva Ma dengan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga membuka peluang kerja…
Bohopanna, local fashion brand anak di bawah naungan Hypefast, resmi meluncurkan koleksi kolaborasi bersama Seribu Paras melalui acara…
BATAM - Pemilik Mini & Coco Homestay, Marlina menunjuk tiga pengacara untuk menghadapi kasus dugaan…
BRI terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah melalui pemanfaatan teknologi digital. Salah satu…
This website uses cookies.
View Comments