Ia menambahkan bahwa konflik antara warga, aparat, dan perusahaan yang bertugas mengelola kawasan harus segera diselesaikan melalui dialog.
“Pada dasarnya, bumi dan air dikelola negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Segala kebijakan harus berpihak pada kesejahteraan masyarakat setempat,” kata Sugeng.
Proyek Rempang Eco-City telah menjadi perhatian publik karena melibatkan investasi besar sekaligus menimbulkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap masyarakat lokal. Sugeng berharap pemerintah mampu menjadi mediator yang adil untuk menyelesaikan permasalahan ini.
“Keberhasilan proyek ini tidak hanya diukur dari aspek ekonomi, tetapi juga dari bagaimana masyarakat sekitar dapat merasakan manfaat langsung tanpa kehilangan hak atas tanah dan budaya mereka,” tutupnya./PT
Page: 1 2
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus bergerak mendukung pemulihan layanan dasar pascabencana di Provinsi Aceh. Fokus…
Usai rilis data inflasi Amerika Serikat, pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penguatan…
Bandung – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 2 Bandung mencatat keberhasilan dalam menjaga…
Tahun 2025 menjadi titik penting dalam perjalanan Program Cyber Security BINUS University di ranah keamanan…
Pensiun dini sering terdengar seperti mimpi besar. Bayangannya hidup lebih santai, waktu lebih fleksibel, dan…
DJI FlyCart 100 dirancang untuk mendukung pengiriman logistik udara tanpa pendaratan di lingkungan dengan keterbatasan…
This website uses cookies.
View Comments