BATAM — Sebagai kota metropolitan yang tengah tumbuh pesat, Batam tak pernah lepas dari persoalan yang mengiringi laju pembangunannya. Dirancang sebagai kawasan perdagangan bebas (free trade zone), kota ini menjalankan sejumlah kebijakan prioritas pemerintah pusat: Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Hingga kini, baru satu PSN yang ditetapkan pemerintah, yakni Rempang Eco City. Dua lainnya masih dalam tahap perencanaan: Kawasan Industri Tanjung Sauh serta Wiraraja Green Renewable Energy & Smart Eco-Industrial Park (GESEIP). Sementara itu, empat KEK telah memperoleh persetujuan: KEK Nongsa, KEK Batam Aero Technic (BAT), KEK Tanjung Sauh, dan KEK Pariwisata dan Kesehatan Internasional Batam.
Semua kebijakan itu digulirkan demi mempercepat pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, percepatan kerap meninggalkan jejak persoalan. Konflik agraria antara masyarakat, pemerintah, dan swasta atau investor menjadi salah satu yang paling sering muncul.
Beberapa waktu lalu, konflik lahan bahkan menelan korban jiwa. Kasus di lahan alokasi PT MIG Perkasa Industri, Pulau Setokok, Bulang, Batam, misalnya, berujung bentrok dua massa. Tak jauh dari itu, warga Teluk Bakau, Nongsa, juga berhadapan dengan rencana penggusuran setelah BP Batam menerbitkan penetapan lokasi untuk PT SBS.
Melihat rangkaian persoalan itu, Forum Wartawan Batam (FWB) bersama Batam Riset Center (BRC) — lembaga kajian yang dibentuk para pakar dan akademisi di Batam — bersepakat menjalin sinergi. Keduanya berkomitmen mengawal dan mengawasi kebijakan pemerintah Kota Batam agar outputnya benar-benar membangun Batam ke arah yang lebih baik.
Kerja sama itu dikukuhkan saat FWB menggelar rapat pengurus di BCC Hotel & Residence, Lubuk Baja, Batam, Jumat, 9 Oktober 2026.
Akademisi dan Data Valid
Dosen Fakultas Hukum Universitas Putera Batam, Diki Zukriadi, mengaku terdorong mengkaji persoalan yang ada di daerah, khususnya Batam. Sebagai akademisi, ia menyadari kajian itu memerlukan sumber data yang valid dan empiris.
Selama ini, dari pemberitaan lokal yang ia baca, Diki tidak mengetahui siapa yang telah menganalisis data-data tersebut. Karena itu, ia menyambut baik ajakan pers di Batam untuk bersinergi dan berkolaborasi mengolah data. Hasil kajian itu nantinya diharapkan dapat dituangkan dalam artikel atau jurnal berskala nasional maupun internasional.
