Pengamat: Pembelian Minyak dari Rusia Berisiko

Pengamat Kritisi Rencana Indonesia

Pengamat ekonomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Maxensius Sembodo mengatakan rencana Indonesia membeli minyak dari Rusia dapat dilihat dari dua sisi. Pertama dari segi pragmatis atau oportunis.

“Di mana Indonesia yang saat ini berada dalam kondisi tidak mudah, harga BMM yang naik, subsidi yang besar, tekanan inflasi, tentu saja tawaran Rusia ini bisa menjadi satu obat di tengah kondisi yang harus kita hadapi, tidak mengenakkan ini. Jadi kenapa kita nggak beli saja? Kan Rusia menjualnya dengan harga yang lebih murah,” ujar Maxensius.

Dari sisi idealis atau ideologis, lanjutnya, sangat berlawanan dengan cita-cita Indonesia yang anti-penjajahan dan anti-agresi, tetapi karena kepentingan pragmatis malah mengorban sisi yang lebih ideologis.

Menurut Maxensius, Indonesia sedianya konsisten pada hal-hal yang lebih ideologis, terlebih dengan posisi Indonesia sebagai Ketua G20 saat ini.

Kalaupun memaksa membeli minyak murah dari Rusia, katanya, Indonesia akan menghadapi hal-hal yang tidak mudah. Dia menyebutkan negara-negara yang menolak invasi Rusia ke Ukraina akan memandang miring sikap Indonesia dan mungkin akan berdampak besar pada isu ekonomi yang lebih besar. Bisa saja, Amerika Serikat akan mempertimbangkan bantuan-bantuannya bagi Indonesia.

Maxensius menyarankan Indonesia tidak terjebak oleh kepentingan-kepentingan pragmatis meski dalam kondisi sulit.

Hal yang sama juga diungkapkan Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira. Menurutnya apabila rencana pembelian minyak dari Rusia jadi dilaksanakan maka berisiko secara politik dan bisa mendapat sanksi dari negara-negara Barat, misalnya dari Amerika Serikat (AS).

AS, menurutnya, dapat menghentikan kerja sama militer yang sudah mulai menghangat, atau memutus keuangan Indonesia dari sistem pembayaran internasional atau SWIFT.

“Karena sebenarnya Indonesia itu bisa membeli minyak dari Rusia dengan (melalui) negara ketiga. Jadi tidak langsung. Karena kalau langsung meski harganya diskon 30 persen lebih murah dari harga pasar, tetap ini akan dipandang Indonesia sebagai Presidensi G20 harusnya ikut serta mendamaikan Rusia dan Ukraina, ternyata berpihak kepada Rusia,” ujar Bhima.

Page: 1 2 3

Redaksi - SWARAKEPRI

Recent Posts

Ekspresi Bahagia Warga Batam Dapat Sembako dari First Club

Satu Tahun Hadir, First Club Berbagi 1.000 Sembako untuk Warga Sekitar BATAM - First Club…

8 jam ago

Meluncur di IIMS 2026, AEROX ALPHA Pamerkan Warna & Grafis Anyar yang Anti-Mainstream

MAXi Yamaha terus menghadirkan berbagai kejutan spesial pada awal tahun ini. Selain sukses menggebrak pasar…

12 jam ago

PTPP Raih Proyek Jembatan Pulau Laut Senilai Rp1,02 Triliun, Perkuat Konektivitas Kalimantan Selatan

PT PP (Persero) Tbk (“PTPP”), perusahaan konstruksi dan investasi nasional di bawah naungan Danantara Indonesia,…

14 jam ago

KAI Bandara Dorong Pemberdayaan SDM melalui Keterlibatan sebagai Dosen Tamu di Universitas Indonesia

KAI Bandara terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui program tanggung jawab…

16 jam ago

Aktivasi Dupoin Futures di CFD Sudirman Tampilkan Inovasi Trading Berbasis Teknologi

Aktivasi brand PT Dupoin Futures Indonesia di kawasan Car Free Day (CFD) FX Sudirman, Jakarta,…

16 jam ago

BRI Finance Hadirkan Solusi Kepemilikan Mobil Lebih Mudah di “BRI Goes to Office”

Dalam upaya memperluas akses pembiayaan kendaraan yang mudah, cepat, dan kompetitif, PT BRI Multifinance Indonesia…

16 jam ago

This website uses cookies.