Lahannya Terancam Ditertibkan Tim Terpadu, Petani di Setokok Minta Keadilan – Laman 2 – SWARAKEPRI.COM
BATAM

Lahannya Terancam Ditertibkan Tim Terpadu, Petani di Setokok Minta Keadilan

Pariadi alias Ateng, seoerang petani di Pulau Setokok, Kecamatan Bulang, Batam,/foto: Shafix


‎Pada pertemuan itu juga, Leo mengatakan kepadanya bahwa apabila pihak yang kalah di Pengadilan itu akan menjadi abu. Tidak akan mendapatkan apa-apa. Pariadi alias Ateng mengaku bahwa ia ikut bergabung dengan pihak PT SKS yang saat ini tengah mengajukan Peninjauan Kembali kedua di Pengadilan Tata Usana Negara (PTUN) Tanjung Pinang melawan Kepala BP Batam dan PT PSJ.

‎”Kok enak sekali? Kata saya. Jadi, sudah tidak ada kebijakan lain. Kata mereka,” ucapnya.

‎Saat pertemuan dengan, Leo. Pariadi alias Ateng sempat melontarkan guyon satirnya. Saat itu, di meja warung kelontongnya ia menunjuk serenceng kerupuk yang tergantung. Kata dia, “Bapak tahu harga kerupuk itu? Tanya dia.

‎Leo hanya diam sambil melihat kerupuk itu. Pariadi alias Ateng melanjutkan, “Kerupuk saya aja satu renteng itu harganya Rp 6.000 masa iya bapak mau mengganti tanah saya satu meternya seharga Rp 4.200 ditambah biaya tanam tumbuh per pohon Rp 700-800 rupiah,” herannya.

‎Singkat cerita, setelah bernegosiasi, Leo menyampaikan bahwa pihaknya tetap tak bisa menaikkan harga tanah itu. Hal ini karena sudah menjadi kebijakan perusahaan.

‎”Jadi, kita ngomong apa pun itu sudah tak akan didengarkan oleh mereka. Itu yang membuat saya pusing,” kata dia.

Kronologi Lahan hingga RDP  di DPRD Batam 

‎Cerita awal mengapa lahan itu bisa menjadi milik Pariadi alias Ateng, kata dia, saat itu ia hanya menumpang menggarap lahan itu dari pemilik lahan bernama, Tini.

‎Kemudian, Tini ini menjual lahan itu. Bingung karena ia terancam tak bisa menggarap lahan lagi. Ia akhirnya memantapkan diri dan menyatakan kesediaannya untuk membeli lahan itu.

‎”Begitu sudah selesai menyicil sekitar 2 bulan. Itulah saya mendapat SP-1. Mungkin, bagi orang berduit tentu tidak terasa uang itu. Tapi, bagi saya yang mengumpulkan uang dari Rp 100-200 perak, terus tiba-tiba baru lunas kena SP-1 bingung kita itu,” ujarnya.

‎Saat ini, lahan 2,5 hektar itu sedang ditanam tumbuh dua varietas tumbuhan. Yakni Cabai dan Jagung.

‎”Waktu saya berdiskusi dengan pak, Leo itu. Saya hanya meminta kelayakan saja. Memang tidak menyebutkan nominal. Kita mintanya waktu itu ditambah lah dari angka yang ditawarkan,” ungkapnya.

Laman: 1 2 3

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Independen dan Terpercaya

PT SWARA KEPRI MEDIA 2023

To Top
error: Content is protected !!