Ketika Mangrove Menangis: Kerusakan Ekosistem dan Amanah Manusia Menjaga Kehidupan – Laman 3 – SWARAKEPRI.COM
NASIONAL

Ketika Mangrove Menangis: Kerusakan Ekosistem dan Amanah Manusia Menjaga Kehidupan

Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si../Foto: Dok.Prinbadi/Ai

“Tangisan” Mangrove adalah Cermin bagi Manusia

Jika mangrove adalah bagian dari ciptaan Allah, maka kerusakannya semestinya tidak hanya dilihat dari perspektif kehilangan sumber daya, tetapi juga dari perspektif moral.

Di sinilah dimensi spiritual memperoleh tempat. Manusia diberikan kemampuan untuk mengelola bumi. Namun, kemampuan tersebut sekaligus membawa tanggung jawab. Mengelola tidak sama dengan mengeksploitasi.

Memanfaatkan tidak berarti memiliki hak untuk merusak. Menguasai teknologi tidak berarti manusia bebas mengabaikan batas ekologis.

Dalam perspektif ini, manusia adalah bagian dari alam, bukan sesuatu yang berdiri di luar alam. Kehidupan manusia bergantung pada ekosistem, sementara ekosistem juga sangat dipengaruhi oleh keputusan manusia.

Hubungan tersebut membentuk suatu sistem sosial-ekologis yang menempatkan manusia dan alam dalam satu kesatuan kehidupan. Maka ketika mangrove rusak, sesungguhnya manusia juga sedang merusak sebagian fondasi kehidupannya sendiri.

“Mangrove menangis” pada akhirnya adalah sebuah cermin untuk mengajak manusia melihat kembali cara manusia memperlakukan ruang hidupnya sendiri.

Amanah yang Tidak Boleh Berhenti pada Kata

Kesadaran ekologis akan kehilangan maknanya apabila tidak diterjemahkan menjadi tindakan. Amanah lingkungan bukan sekadar gagasan moral, tetapi harus diwujudkan dalam cara manusia mengambil keputusan.

Amanah berarti memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya tidak menghancurkan kemampuan alam untuk pulih. Amanah berarti mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang kehidupannya bergantung pada ekosistem. Amanah berarti tidak memindahkan biaya kerusakan kepada generasi yang belum lahir. Amanah berarti melakukan pemulihan ketika kerusakan telah terjadi.

Dalam konteks mangrove, amanah tersebut dapat diwujudkan melalui perlindungan kawasan yang tersisa, pengendalian konversi, pengurangan pencemaran, pemulihan kawasan terdegradasi, penguatan kelembagaan masyarakat, pengawasan yang konsisten, serta pengelolaan pesisir yang mempertimbangkan keterkaitan antara daratan, sungai, pesisir, dan laut.

Yang juga tidak kalah penting adalah memastikan bahwa masyarakat lokal tidak hanya diposisikan sebagai penerima kebijakan. Masyarakat pesisir memiliki pengetahuan, pengalaman, dan keterikatan langsung dengan ekosistem. Pengelolaan mangrove yang berkelanjutan membutuhkan partisipasi mereka sebagai bagian dari sistem pengelolaan.

Dengan demikian, amanah ekologis bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ia merupakan tanggung jawab bersama.

Laman: 1 2 3 4 5

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Independen dan Terpercaya

PT SWARA KEPRI MEDIA 2023

To Top
error: Content is protected !!