Ketika Mangrove Menangis: Kerusakan Ekosistem dan Amanah Manusia Menjaga Kehidupan – SWARAKEPRI.COM
NASIONAL

Ketika Mangrove Menangis: Kerusakan Ekosistem dan Amanah Manusia Menjaga Kehidupan

Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si../Foto: Dok.Prinbadi/Ai

Penulis: Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si.
Dosen Sosial Ekonomi Perikanan Universitas Djuanda/Ketua Umum DPN Asosiasi Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (AALHI)

Di antara daratan dan lautan, terdapat ruang ekologis yang sering kali tidak sepenuhnya dipahami manusia. Kawasan pesisir merupakan wilayah pertemuan berbagai proses alam dan aktivitas manusia, tempat air tawar bertemu air asin, sedimen bergerak, pasang surut bekerja, dan berbagai bentuk kehidupan berkembang dalam keterhubungan yang kompleks.

Di dalam ruang inilah ekosistem mangrove tumbuh dan menjalankan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar hamparan vegetasi di tepian pantai.

Mangrove adalah bagian dari sistem kehidupan pesisir dan menjadi tempat berlindung (nursery ground), mencari makan (feeding ground), dan berkembang biak (spawning ground) bagi berbagai organisme, menahan gelombang dan membantu melindungi garis pantai, menangkap dan menyimpan sedimen (sediment trap), berkontribusi terhadap penyimpanan karbon (carbon storages), serta menyediakan berbagai jasa ekosistem yang mendukung kehidupan manusia.

Masyarakat pesisir memperoleh manfaat langsung maupun tidak langsung dari keberadaan mangrove, baik melalui perikanan, perlindungan wilayah pesisir, sumber penghidupan, maupun berbagai fungsi sosial-ekologis yang sering kali baru disadari ketika ekosistem tersebut mulai mengalami kerusakan.

Oleh karena itu, ketika mangrove mengalami degradasi, maka yang sebenarnya hilang bukan hanya pepohonan saja, yang berkurang adalah kapasitas sebuah sistem ekologis dalam menopang kehidupan.

Dalam konteks inilah ungkapan “Ketika Mangrove Menangis” memperoleh makna yang lebih dalam. Tangisan mangrove bukanlah suara sebagaimana manusia menangis.

Tangisan ini adalah metafora tentang sebuah ekosistem yang mengalami tekanan, kehilangan fungsi, dan perlahan-lahan kehilangan kemampuan untuk menjalankan perannya dalam menopang kehidupan.

“Tangisan” tersebut dapat dibaca melalui tanda-tanda sosial-ekologis yang nyata, yaitu: berkurangnya tutupan vegetasi, fragmentasi habitat, perubahan struktur komunitas, menurunnya kualitas perairan, meningkatnya abrasi, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta menurunnya berbagai jasa ekosistem yang selama ini diberikan secara diam-diam kepada manusia.

Mangrove Bukan Sekadar Pohon

Kesalahan dalam memahami mangrove sering dimulai dari cara manusia memandangnya. Mangrove kerap diperlakukan sebagai sekumpulan pohon yang berdiri di kawasan berlumpur dan secara sederhana dapat dikonversi apabila dianggap tidak memberikan manfaat ekonomi yang cukup besar. Padahal, nilai mangrove tidak dapat ditentukan hanya dari produk yang dapat dipanen atau dijual.

Padahal, mangrove adalah ekosistem. Sebagai ekosistem, keberadaannya ditentukan oleh hubungan antara vegetasi, tanah, air, salinitas, pasang surut, sedimen, mikroorganisme, fauna, dan berbagai proses ekologis yang berlangsung secara bersamaan.

Karena itu, kerusakan mangrove tidak cukup dipahami hanya melalui jumlah pohon yang hilang. Kerusakan juga harus dilihat dari perubahan fungsi ekologis dan kemampuan ekosistem tersebut dalam mempertahankan keseimbangannya.

Sebuah kawasan mungkin masih terlihat memiliki pepohonan mangrove, tetapi apabila struktur vegetasinya telah berubah, habitatnya terfragmentasi, kualitas airnya menurun, atau proses ekologisnya terganggu, sesungguhnya ekosistem tersebut telah mengalami tekanan.

Dengan demikian, konservasi mangrove tidak semestinya berhenti pada kegiatan menanam pohon. Menanam merupakan salah satu tindakan penting, tetapi keberhasilan pemulihan harus dilihat dari apakah ekosistem mampu kembali menjalankan fungsi ekologisnya.

Mangrove yang hidup adalah satu hal; mangrove yang kembali berfungsi sebagai ekosistem adalah hal yang lebih penting.

Laman: 1 2 3 4 5

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Independen dan Terpercaya

PT SWARA KEPRI MEDIA 2023

To Top
error: Content is protected !!