Selama manusia masih mau mendengar, kerusakan masih dapat diperbaiki. Selama manusia masih mau belajar dari alam, kebijakan dapat diperbaiki. Selama manusia masih memiliki kesadaran bahwa bumi bukan sekadar ruang untuk dieksploitasi, pemulihan masih mungkin dilakukan.
Dan, selama manusia memahami bahwa dirinya adalah bagian dari ciptaan Allah sekaligus memikul amanah untuk menjaga bumi, perlindungan terhadap mangrove tidak lagi sekadar menjadi agenda konservasi, melainkan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
Pada akhirnya, “menjaga mangrove adalah menjaga kehidupan.” Menjaga pesisir adalah menjaga ruang hidup. Memulihkan ekosistem adalah memulihkan hubungan manusia dengan alam. Dan menghentikan kerusakan adalah bentuk nyata dari kesediaan manusia menjalankan amanahnya.
Semoga manusia tidak menunggu sampai mangrove benar-benar “menangis” untuk menyadari nilainya. Oleh sebab itu, boleh jadi, setiap ekosistem yang dibiarkan rusak sedang menyampaikan pesan yang sama bahwa ”kehidupan sedang meminta manusia untuk kembali belajar menjaga.”**
