Ketika Mangrove Menangis: Kerusakan Ekosistem dan Amanah Manusia Menjaga Kehidupan – Laman 4 – SWARAKEPRI.COM
NASIONAL

Ketika Mangrove Menangis: Kerusakan Ekosistem dan Amanah Manusia Menjaga Kehidupan

Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si../Foto: Dok.Prinbadi/Ai

Dari Menanam Mangrove Menuju Memulihkan Ekosistem

Gerakan rehabilitasi mangrove telah menjadi salah satu bentuk respons terhadap kerusakan pesisir. Namun, rehabilitasi perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih komprehensif.

Tidak semua lokasi cocok untuk ditanami mangrove. Tidak semua bibit yang ditanam akan tumbuh. Dan tidak semua kawasan yang terlihat hijau kembali telah pulih secara ekologis.

Pemulihan mangrove harus dimulai dengan memahami penyebab kerusakan. Jika kerusakan terjadi karena perubahan hidrologi, maka persoalan hidrologi harus diperbaiki. Jika terjadi karena pencemaran, maka sumber pencemaran harus dikendalikan.

Jika terjadi karena konversi kawasan, maka tata ruang dan penegakan aturan harus diperkuat. Jika terjadi karena tekanan sosial-ekonomi, maka alternatif penghidupan dan tata kelola masyarakat perlu diperhatikan.

Dengan kata lain, “pemulihan ekosistem bukan sekadar menanam kembali pohon, tetapi mengembalikan kondisi yang memungkinkan ekosistem untuk hidup dan berfungsi.”

Pendekatan ini juga menuntut pemantauan jangka panjang. Keberhasilan pemulihan tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi perlu dilihat dari tingkat kelangsungan hidup, perubahan struktur vegetasi, pemulihan habitat, kualitas lingkungan, keanekaragaman hayati, serta kembalinya jasa ekosistem yang sebelumnya hilang.

Menjaga Mangrove Berarti Menjaga Kehidupan

Mangrove mengajarkan satu hal penting: kehidupan tidak pernah berdiri sendiri. Akar mangrove menahan sedimen. Sedimen membentuk habitat. Habitat menopang biota. Biota mendukung perikanan. Perikanan menopang kehidupan masyarakat.

Sementara keberadaan vegetasi membantu melindungi pesisir dan menyediakan berbagai jasa ekosistem lainnya. Satu ekosistem kecil dapat memiliki konsekuensi yang sangat besar bagi kehidupan di sekitarnya.

Oleh karena itu, menjaga mangrove bukan semata-mata menjaga pepohonan. Kita sedang menjaga sistem kehidupan yang lebih luas.

Dan ketika manusia merusaknya, dampaknya pada akhirnya kembali kepada manusia. Ungkapan “Ketika Mangrove Menangis” dapat diartikan menjadi lebih dari sekadar metafora.

Hal ini adalah cara sederhana untuk menggambarkan sebuah kenyataan ekologis yang kompleks: ketika sebuah ekosistem kehilangan kemampuan untuk menjalankan fungsinya, kehidupan di sekitarnya ikut kehilangan perlindungan.

Tangisan itu dapat dibaca melalui abrasi yang semakin dekat, habitat yang semakin sempit, biota yang semakin berkurang, air yang semakin tercemar, hasil tangkapan yang menurun, dan masyarakat pesisir yang semakin rentan. Tetapi tangisan tersebut juga membawa harapan.

Laman: 1 2 3 4 5

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Independen dan Terpercaya

PT SWARA KEPRI MEDIA 2023

To Top
error: Content is protected !!